Kamis, 27 Desember 2018

Bermalam di Monas

Awal desember 2016 lantunan do'a panjang qunut nazilah shalat jum'at yang diiringi hujan, menyimpan kenangan mendalam dirasakan berjuta umat.

Hari ini "212" 2018 kembali menggurat kenangan semakin dalam, ketika kembali berjuta umat yang berkumpul bersama merasakan keindahan dan kedamaian menapak tilasi berkumpulnya kami dua tahun yang lalu.

Kebersamaan, kedamaian, rasa memiliki dan menjaga satu sama lain menjadi cerita yang layak untuk dikenang, rasa syukur tak terkira ketika masih diberi kesempatan ikut larut dalam pusaran sejarah tentang indahnya memiliki rasa yang sama dengan yang lain.

Mengawali keberangkatan seusai melaksanakan shalat isya, sepeda motor yang dipacu membelah jalanan berdua dengan teman kecil yang bersemangat ikut ambil bagian acara reuni besar ini.

Khawatir kelelahan dalam perjalanan, kawan dan saudara yang terdekat posisinya dengan monas dihubungi untuk bisa disinggahi.

Satu jam perjalanan tiba di stasiun Bogor rupanya sudah dipenuhi saudara - saudara yang bersiap pula menyambangi monas yang dituju.

Kereta berangkat terisi penuh seolah dibooking oleh peserta aksi reuni 212 kali ini. Berjubal-berdesakan. Ya seringkali kejadian berdesakan di kereta adalah kejadian  yang sering dirasakan para comuter yang terbiasa menggunakan moda transportasi ini.

Sepanjang perjalanan menuju monas suasananya terasa berbeda, bergetar - mengharukan ketika lantunan shalawat dan dzikir begitu bergemuruh dilantunkan sepanjang perjalanan.

Dari stasiun ke sasiun terlihat pula banyak para jamaah menuju monas yang tidak bisa terangkut karena begitu antusiasnya mereka untuk mengikuti acara reuni ini.

Tiba di stasiun Gondangdia keadaanya semakin bertambah ramai. Rupanya semangat yang kadung meluap sang teman kecil menolak untuk diajak singgah istirahat terlebih dahulu.

Ayah. Langsung saja kita ke monas bersama yang lain ujarnya. Demi melihat semangatnya seperti itu, okelah kita langsung ke Monas, siapa takut.!😊

Sampai di monas sekira jam 24, gelombang manusia tak henti-hentinya terus berdatangan,.

Ada yang menarik perhatian, kafilah yang sedikit mencolok membawa bendera merah putih dan bendera tauhid dengan ukuran cukup besar mendorong kami untuk mendekati dan bisa menyapa mereka.

Rupanya mereka kafilah dari Maluku dengan warna kulitnya yang khas, bertambah semangatlah si teman kecil bisa bertemu saudara-saudara jauh dari timur sana.

Dengan bekal alas untuk istirahat, betapa ikmatnya bisa memejamkan mata di tempat terbuka di pelataran monas berbaur dengan yang lain.

Semua saling menjaga-semua saling melindungi, seakan seekor nyamukpun sepertinya tak ada yang hinggap mengganggu, membiarkan kami untuk bisa istirahat sejenak memejamkan mata, hingga terbangun oleh ajakan suara pelantang untuk melaksanakan tahajjud bersama.

Mengawali pagi selesai shalat subuh, tawaran menu sarapan pagi sudah disiapkan di beberapa posko. Kami memilih roti dan air putih saja.

Tibalah kebutuhan lain yang harus ditunaikan, kami mencari toilet yang tersedia. Rupanya antrian sudah mengular panjang.

1,5 jam untuk bisa menyelesaikan ini. Semua dijalani dengan ikhlas walaupun seorang kakek peserta aksi mengatakan: Seumur-umur baru baru sekarang merasakan antri ke toilet sepanjang ini.

Walaupun begitu, tidak ada yang merasa terbebani, malah kejadian ini menjadi seloroh : Bahwa di dalam toilet kita bakal ketemu artis, karena setelah keluar toilet wajahnya akan terlihat ceria penuh bahagia. Legaaa.!🤗

Pagi yang mulai beranjak siang, ketika kembali ke tengah area monas, orasi dari KH Didin Hafidudin mulai berlangsung, barisan yang tadinya longgar kini mulai menyempit.

Beberapa saat sebelum lagu Indonesia Raya dikumandangkan, gema dzikir, takbir dan shalawat tak henti-hentinya diucapkan.

Tiba-tiba peserta semakin kuat mengumandangkan kalimat tauhid sambil menunjuk ke atas melihat siluet awan yang menyerupai lafadz "Allah", yang dengan jelas bisa diabadikan.

Semakin siang apa yang terjadi di panggung utama sudah tidak jelas lagi apa yang disampaikan karena gangguan sound yang terjadi. Akhirnya kami menyimak orasi seorang emak yang jauh-jauh datang dari Palu menyemangati kami.

Biarpun Palu baru terkena musibah: "Palu bangkit - Palu kuat - Palu bisa", terus menerus si emak menyemangati kami.

Suasan sedikit hening ketika suara serak-serak basah pak Prabowo sayup-sayup mulai terdengar dari atas panggung, entah dari sound yang mana datangnya.

Selesai mengikuti acara, Pintu keluar monas patung kuda kami pilih. Penuh dengan perjuangan dan kesabaran menempuhnya karena begitu banyaknya orang berjalan harus berhimpitan, semuanya berjalan tertib saling menjaga-saling melindungi.

Menyusuri jalan Thamrin yang dipenuhi lautan manusia, area car free day-pun akhirnya harus mengalah untuk berbagi menjadi tempat parkir mobil hingga bus-bus besar dari daerah.

Dari stasiun Sudirman kini sudah tiba di peraduan, merasakan kembali kenangan indah "Bermalam di Monas", do'a terindah dan terbaik dipanjatkan untuk saudara-saudaraku semua.

Pasarean 212-2018