Senin, 13 Januari 2020

Menghindari Sesat Pikir Sesat Logika


Menghindari sesat pikir dan sesat logika memerlukan pengetahuan untuk membedakan mana jalan berpikir yang benar. Mana pula cara berpikir yang tidak benar, cara berpikir yang boleh dilakukan sebagai tanda manusia berakal, juga bagaimana untuk menghindari cara berpikir salah.

Pikiran dan akal budi adalah karunia Tuhan yang diberikan kepada manusia. Sebagai bentuk rasa syukur atas karunia ini, sudah seharusnya akal pikiran dipergunakan dengan sebaik-baiknya dengan berlandaskan pakem cara berpikir serta logika yang benar agar tidak terjerumus pada sesat pikir.

Jika tidak dibekali pengetahuan dan mengenali tanda-tanda bahwa kita sudah tersesat. Maka akan mudah untuk menghakimi bahwa orang lain telah melakukan sesat pikir, tapi sesungguhnya, dirinya yang sesat pikir. Banyak orang yang justru mengalami kesalahan berpikir dan mengira sesuatu sebagai benar. Padahal logikanya justru keliru.

Berikut ini paling tidak ada 18 tanda ketika melakukan interaksi dengan orang lain untuk kita kenali agar tidak terperosok dalam sesat pikir yang terkadang membahayakan. 17 tanda ini dikutip dari tulisan seorang Doktor antropologi abangda : Yusran Darmawan yang menyelesaikan S1-nya di Universitas Hasanudin. S2 di Universitas Indonesia dan S3 di Negeri Paman Sam.

1.       Pertama. “ AD HOMINEM”, yang berarti menyerang karakter atau kehidupan personal lawan untuk melumpuhkan argumennya. Nama panjangnya adalah argumentum ad hominem. Bentuknya adalah kita berhadapan dengan argumentasi, namun kita justru menyerang si pemberi argumentasi itu dengan hal-hal lain tentang pribadinya yang tak ada hubungannya dengan argumentasi itu.

Misalnya, Bob Dylan adalah musisi hebat. Kita lalu menyerang argumentasi itu dengan pernyataan bahwa “Bob Dylan kan seorang pemabuk, artinya musiknya tidak bagus.” Nah, jika kita berargumentasi seperti ini, kita telah mengalami kesalahan berpikir sebab kita menyerang hal negatif yang tak ada kaitannya dengan apa yang sedang dibahas.

2.       Kedua,” POST HOC ERGO PROPTER HOC”. Kesalahan berpikir ini ketika menganggap dua hal memiliki kaitan secara langsung. Saat X terjadi, Y juga terjadi. Tiba-tiba kita menyimpulkan X adalah penyebab terjadinya Y. Misalnya seorang politisi tiba-tiba terpilih jadi pemimpin.

Pada saat terpilih, semua harga daging langsung meroket naik. Orang yang mengaitkan naiknya harga daging karena naiknya politisi itu bisa jadi mengidap salah berpikir.

3.       Ketiga, “PARS PRO TOTO”. Ini adalah anggapan satu bagian kecil merupakan cerminan keseluruhan. Misalnya, seseorang dikhianati kekasihnya yang berasal dari Makassar. Ia lalu mengumpat dan mengatakan, "Semua orang Makassar adalah buaya." Nah, dia mengalami kekeliruan berpikir sebab pengalaman bertemu satu orang, tiba-tiba dianggap mewakili keseluruhan orang Makassar.

Dalam diskusi politik, kita sering menemukan pemikiran seperti ini. Misalnya, seseorang membaca berita tentang ada warga keturunan yang divonis korupsi. Ia lalu menggeneralisir bahwa semua warga keturunan seperti itu. Ia lalu membenci setengah mati.

Padahal, faktanya, pelaku korupsi itu berasal dari berbagai etnik dan agama. Malah, ada pula pelaku korupsi yang rekan sekampungnya. Ada yang ketahuan, dan ada yang tidak ketahuan.

4.     Keempat, “ARGUMENTUM AD BACULUM”. Berusaha memaksa lawan untuk menerima pendapat dengan cara memberikan rasa takut. Misalnya pernyataan, "Kalau kamu tidak terima kebenaran ini, silakan keluar dari agama. Saya akan keluarkan fatwa agar anda kafir, lalu anda akan jadi sasaran kemarahan publik." Nah, ada beberapa hal yang bisa disoroti dari pernyataan ini; (1) sejak kapan dia seolah jadi juru bicara satu keyakinan, (2) sejak kapan kebenaran harus dipaksakan dnegan ancaman?

5.     Kelima, “ANECDOTAL”. Yakni menggunakan cerita personal untuk membuktikan "fakta" universal, khususnya untuk melumpuhkan data dan statistik. Ini juga seirng ditemukan. Misalnya ada survey yang menyebutkan bahwa orang Indonesia rata-rata bahagia, tiba-tiba kita merespon. “Ah saya justru merasa tidak bahagia. Riset itu malah ngawur.”

Nah, ini juga termasuk anecdotal atau salah pikir. Artinya, kita menggunakan cerita pribadi untuk menggugurkan satu argumentasi yang sifatnya universal.

6.       Keenam, “BLACK OR WHITE”. Kepercayaan bahwa hanya ada dua alternatif kemungkinan. Kalau bukan A yang benar, maka pastilah B yang benar


7.       Ketujuh, “ARGUMENTUM AD VERECUNDIAM”. Pandangan ini adalah pandangan yang mendewakan pendapat seseorang, dan menganggap pendapat itu sudah pasti benar. Dalam politik, hal ini sering terjadi. Saat idolanya, yakni Si A, mengeluarkan fatwa, maka ia lantas beranggapan bahwa itu sudah pasti benar. Saat ada suara kritis, orang itu akan balik bertanya, "Anda berani mengkritik dia. Apakah anda sehat?"

Dalam logika, seringkali argumentum ad verecundiam ini dipersamakan dengan “halo effect.” Ini juga cara berpikir yang sering kita temukan di media sosial. Halo effect adalah bias subyektif saat pertama bertemu seseorang, yang lalu digunakan untuk menganggap semua kalimatnya benar. Istilah “halo effect” boleh jadi dipengaruhi oleh kisah tentang para santo atau manusia suci sebagaimana lukisan dari abad pertengahan yang di kepalanya ada lingkaran (halo). Kesan saat bertemu “manusia halo” seperti ini adalah kita akan menganggap dirinya suci sehingga semua argumennya diterima mentah-mentah.

8.       Kedelapan, “APPEAL TO EMOTION”. Ini adalah memanipulasi tindakan emosional untuk menyatakan kebenaran. Misalnya, anda pernah dikasari seorang yang agamanya adalah menyembah pohon. Saat diskusi dengan penganut agama itu, anda langsung emosional dan menangis terisak demi meyakinkan betapa jahatnya para penyembah pohon. Perdebatan yang harusnya jadi ajang positif untuk menumbuhkan pengetahuan, kok malah jadi baper.

9.       Kesembilan,”STRAWMAN”. Dalam logika, ini disebut melebih-lebihkan, menyalah-artikan, atau bahkan memalsukan argumen seseorang demi membuat argumen Anda yang menyerangnya terdengar lebih masuk akal.

Misalnya pejabat A berargumen bahwa berdasarkan pengamatannya di lapangan, nelayan dan petani tidak senang dengan koperasi karena yang mendapatkan modal hanya pengurusnya saja, sehingga hal ini perlu diperbaiki. Mendengar hal tersebut, lawan politik si A menyatakan bahwa si A menolak koperasi. Bahwa si A berkata koperasi tidak diperlukan di desa.

Contoh lain bisa dikemukakan. Seorang pejabat berkata, “Kita harus fokus memperkuat industri kita.” Seseorang lalu merespon, “Kalau memperkuat industri, berarti anda mengabaikan pertanian dan pedesaan. Berarti anda benci dengan sektor pedesaan. Mengapa anda membenci desa?” Nah, ini dia yang disebut strawman. 


10.   Kesepuluh, “SLIPERY SLOPE”. Mengasumsikan jika situasi P terjadi, maka Q akan juga terjadi, tanpa didukung dengan bukti atau penalaran yang masuk akal. Karena itu, P tidak boleh terjadi. Misalnya, seorang pejabat pemerintahan menolak melegalkan pernikahan beda keyakinan, sebab jika diperbolehkan kelak mereka akan melegalkan pernikahan sesama jenis di masa depan. Ini juga kekeliruan logika, sebab dua hal itu adalah hal berbeda.

11.   Kesebelas,”TU WUOQUO”.  Menghindar dari kritik sekaligus mendiskreditkan lawan dengan menggunakan kritik yang sama yang disampaikan pada dirinya. Misalnya seorang ayah mengingatkan anaknya, "Nak, kamu jangan merokok ya. Merokok itu merugikan kesehatanmu." Lalu, si anak menjawab, "Ah, Ayah merokok tiap hari masih kelihatan sehat kok. Berarti merokok itu tidak ada hubungannya dengan kesehatan."

Atau pernyataan lain. Misalnya: “Berhati-hatilah main proyek. Bisa-bisa kamu akan masuk penjara.” Tiba-tiba ada yang menyanggah: “Siapa bilang main proyek harus berhati-hati? Buktinya situ sejak dulu selalu main proyek, Artinya aman dong.” Nah, kita membalas kritikan dengan cara mendiskreditkan si pengkritik.

12.   Kedua belas, “BURDEN OF PROOF”. Menyatakan bahwa orang lainlah yang harus membuktikan suatu klaim, bukan si pembuat klaim. Misalnya Seorang  sering berpikir seperti ini. Ia melempar berbagai isu-isu tanpa data dan fakta. Dikarenakan tidak ada yang menanggapinya, ia merasa di atas angin. Ia pikir dirinya benar. Saat seseorang tersinggung lalu melaporkan dirinya ke polisi, ia malah ingin minta maaf dan minta kasusnya dianggap selesai. Aneh.

Dalam logika, burden of proof ini hampir sama dengan argumentum ad ignorantiam, yakni menganggap suatu hal sebagai kebenaran, hanya karena orang-orang diam atau tidak ada orang yang menyanggahnya. Padahal, orang lain memilih diam karena merasa tak ada gunanya berdebat dengan seseorang. Kata satu ujaran, “Yang waras, ngalah!”

13.   Ketiga belas,”BADWAGON”. Keyakinan bahwa jika suatu hal itu populer dan dipercayai banyak orang, maka hal itu adalah kebenaran yang valid, tanpa perlu menyelidikinya lebih lanjut. Misalnya banyak orang yang menganggap bahwa si A itu seorang yang tidak baik. Karena pandangan itu dianut mayoritas orang, ia pun ikut-ikutan percaya dengan apa yang disampaikan.

Ia ibarat gerbong (bandwagon) yang ditarik oleh satu lokomotif. Mungkin ia berpendapat berbeda, cuma karena ia takut untuk berbeda pandangan dengan publik, ia ikut saja ke mana arus akan menyeretnya. Di tataran politik kita, banyak lembaga survei yang hendak berperan sebagai penarik bandwagon opini publik.

14.   Keempat belas, “APPEAL TO AUTORITY”. Kepercayaan pada otoritas. Misalnya saat pemerintah menyatakan satu informasi benar, maka ia lantas dengan mudahnya percaya. Ia lalu mengabaikan berbgai penalaran lain yang belu tentu sejalan dengan pemikiran pemerintah. Atau kita ambil contoh lain. Saat ada lembaga menyatakan sesuatu itu haram, maka ia dengan serta-merta langsung dipercaya, tanpa mengujinya secara kritis.

15.   Kelima belas, “PERSONAL INCREDULITY”. Menganggap sesuatu tidak benar hanya karena susah dipahami. Misalnya seorang politisi mengklaim ia punya ribuan relawan, yang bisa digerakkan karena adanya kesamaan visi serta pola kerja yang efektif.  Seseorang tiba-tiba saja menolak mentah-mentah kalimat itu, hanya karena dirinya tidak memahami bagaimana konsep partisipasi publik serta strategi membangun tim yang kokoh. Dia tidak paham, malas menalar, lalu menganggap ide itu keliru.

16.   Keenam belas,”APPEAL TO NATURE”. Ini adalah kepercayaan bahwa sesuatu itu valid atau benar karena sifatnya yang natural seperti itu. Misalnya kepercayaan bahwa seorang pemimpin itu harus gagah, penuh keberanian, serta punya seragam militer. Keberanian seolah identik dengan seragam.

17.   Keenambelas, “GENETIC”. Menilai satu pernyataan baik atau tidak hanya berdasarkan pada dari mana pernyataan itu berasal, tanpa disertai argumentasi yang valid. Misalnya hanya karena diberitakan korupsi, petinggi satu partai lalu menyatakan, kita harus berhati-hati pada informasi dari media A karena sering mendiskreditkan kita. Harusnya ia akan mengintropeksi diri lalu menjelaskan duduk perkara, bukannya menyalahkan pihak lain.

18.   Kedelapan belas, “NON CAUSE PRO CAUSE”. Ini adalah penarikan kesimpulan yang keliru. Misalnya pernyataan bahwa Sukarno menjadi presiden pertama Indonesia karena dia orang Jawa. Pernyataan ini dibuat tanpa memperhatikan berbagai aspek lain. Pastilah akan muncul pernyataan, mengapa harus Sukarno? Bukankah ada banyak orang Jawa lainnya?

Dengan mengenali delapan belas ciri ini, cara berpikir yang salah yang membuat logika yang sesatpun dapat kita hindari. Selamat berpikir.

Selasa, 07 Januari 2020

Putusnya Sandal Yutaka

Ada yang beralasan sebuah kehilangan dengan berkeluh kesah. Adapula menjadikan kehilangan untuk mendapatkan lebih baik.

Lebih baik dalam memberi arti.
Lebih baik dalam bersikap.
Lebih baik dalam bertindak.

Konon, karena hidup itu adalah pilihan. Pun cara kita menjalaninya banyak pilihan - pilihan.

Siang dan malam yang dipergantikan. Lapang dan sempit yang dipergilirkan. Adalah karunia Tuhan akan selalu datang dan pergi, bagaimana kita memberi arti.

Putusnya sandal Yutaka. Bukan berarti tanda celaka.
Yutaka hanyalah sekedar nama, dari sekian banyak sandal yang dicipta manusia.

Setiap orang punya jalannya. Setiap orang punya cerita.
Ceritakanlah yang baik-baik sahaja. Tak perlu yang buruk menghias kata.

Buruk rupa cermin dibelah. 
Buruk - buruk papan jati, tetap harus dijaga dan dibela.

Mikul dhuwur mendem jero. 
Hanacaraka data sawala.

Hilangnya sandal Yutaka, hanyalah peristiwa biasa.
Yang tak biasa jika harus mencela.
Yang bahaya jika pisah saudara.
Yang Cilaka Jika Iman binasa.

Menjadi tua adalah niscaya
Mendewasa adalah cara bijaksana.

Kita yang hidup di desa. Ternyata sama dengan yang di kota.
Tantangannya hidup bersama harus dijaga. Ikatan rasa harus dibela.

Nikmat pagi menjemput harapan ditemani secangkir kopi, segelas teh manis, patut disyukuri bahwa aku - kamu dan kita semua masih diberi kesempatan.






Jumat, 03 Januari 2020

Tahun baru 2020, Harapan di Tengah Bencana

Penghujung tahun 2019 dirasa berbeda bagi warga yang berada di wilayah Jabodetabek dan sebagian besar wilayah Indonesia.

Sore hari tanggal 31 Desember 2019 cuaca mendung yang berlanjut menjadi hujan yang tak henti hingga esok harinya. Awal tahun, 1 januari 2020 adalah cerita yang patut dituliskan bahkan direnungkan.

Ada banyak rencana dari banyak orang.
Ada banyak acara yang dipersiapkan.
Ada banyak tempat sudah ditentukan lokasinya.
Manusia punya rencana, Allah jua yang menentukan.

Hujan turun hingga rabu siang telah mengubah rencana-rencana itu. Berdiam diri di dalam rumah adalah cara paling nyaman dalam menyambut datangnya tahun baru 2020, bahkan tempat tidur menjadi lebih menarik dibanding harus memaksakan diri keluar rumah.

Suara petasan yang menggelagar bersahutan mengiringi pergantian tahun, tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Sorak sorai kegembiraan tak bergemuruh lagi terdengar.

Kekuasaan Allah tengah dipertunjukan dihadapan makhluknya melalui turunnya hujan, agar manusia ingat dan mawas diri, kita adalah makhluk lemah.

Tanpa ada yang bisa menolaknya musibah itu datang di banyak tempat. Banjir dan longsor menjadi nestapa yang dirasakan dalam mengawali awal tahun.

Ada banyak kehilangan, ada kesedihan yang menghiasi setelah datangnya bencana.

Semua terjadi dengan kuasa dan kehendak sang pencipta pemilik jagat raya. Pasti ada hikmah atas terjadinya semua ini.

Dua tahun berturut-turut kita diingatkan dengan terjadinya bencana alam diwaktu yang mendekati pergantian tahun.

Tsunami di pantai selatan Banten.  Anyer, Carita hingga Sawarna menjadi cerita pilu ketika air bah itu datang menghempaskan harta-benda hingga nyawa di sepanjang garis pantai.

Akhir 2019 - awal 2020 musibah itu datang kembali di lain tempat.

Jakarta, Tangerang, Depok, Bekasi Kebanjiran karena curah hujan tinggi. Air tidak bisa mengalir. Tumpukan sampah. Resapan air yang beralih fungsi. Drainase tersumbat, semuanya karena ulah manusia.

Banjir hujatan-cacian di belantara media sosial tak kalah derasnya mengiringi musibah kepada sang Gubernur Jakarta yang jadi tertuduh.

Bogor dan Kabupaten Lebak harus mersakan duka yang dalam. Banjir dan longsor telah memporak porandakan apa yang selama ini telah dibangun. Puluhan nyawa tak tertolong hingga yang tak dapat diketemukan melengkapi kesedihan warga yang terkena bencana.

Introspeksi itu keharusan. Pemerintah. Penegak hukum. Para pengusaha. Dan Siapapun kita!?

Alam sudah banyak dirusak oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab.

Bahkan yang paling kecilpun kita telah banyak mendzolimi kelestarian alam. Hanya untuk sekedar membuang bungkus permen saja kita bahkan acuh membuangnya dengan benar.

Kita terlalu sering masa bodoh dampak yang ditimbulkan dari cara kita memperlakukan alam semesta dengan ramah dan rasa syukur.

Musibah tidak akan datang tanda seizin yang maha kuasa.

Eratkan empati, simpati dan solusi. Bukan basa-basi atau mencitrakan diri.

Kita bangsa yang tangguh menerima cobaan. Dan akan memperbaiki diri.

350 tahun dijajah. Aceh luluh lantak diterjang Tsunami. Krisis 1998 telah menempa kehidupan berbangsa.

Kita bisa bangkit. Kita bisa tetap berdiri. Kita bisa tetap bersatu tanpa disintegrasi.

Hikmah dan harapan selalu terbuka untuk kita resapi.

Mari saling memperbaiki diri

Tahun 2020 kita masih boleh bermimpi.

Tahun 2020, masih ada harapan di tengah bencana.

Hasbunallaah wani'mal wakiil. Ni'mal maulaa wani'mannasiir.



Pasarean,4012020


KHUTBAH AWAL TAHUN 3 JANUARI 2020


Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, Alhamdulillah, kita semua diberikan nikmat oleh Allah subhanahu wata’ala, nikmat iman, nikmat sehat, sehingga bisa menjalankan ibadah shalat Jumat  pada tanggal 7 Jumadil awwal 1441 H/ 3 Januari 2020, sembari bersilaturrahim dengan keluarga, karib kerabat, tetangga serta handai taulan.  Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat kita harapkan syafaatnya kelak di hari kiamat.  

Hadirin jamaah Jumat  rohimakumullah, Pada kesempatan khutbah Jumat ini, khatib tidak lupa  mengingatkan dan mengajak, marilah kita meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala, dengan menjalankan semua perintahnya dan menjauhi larangannya, takwa di mana pun kita berada, di tempat kerja, di jalan raya, di tempat-tempat umum, di tempat sepi maupun di tempat ramai, semoga kita tetap istiqomah menjalankan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala. 
 
Dua hari yang lalu kita telah memasuki  tahun baru syamsiyah 2020. Beberapa di antara kita melakukan refleksi akhir tahun, lalu membuat perencanaan-perancanaan di awal tahun 2020, menyampaikan resolusi di tahun 2020, berharap tahun ini lebih baik dari tahun kemarin dan semua terget kita bisa tercapai.  

Pada awal tahun 2020 juga,  patut kita syukuri bahwa kita yang berkumpul di mesjid yang mulia ini, ataupun yang mendengarkan pengeras suara ini  mengakhiri tahun 2019 dan menyongsong tahun 2020 dengan keadaan aman, tenang dan diberi keselamatan, walaupun dari sore hari hingga ketemu pagi di awal tahun 2020 sebagian besar ditemani dengan hujan yang tak henti. Ada banyak saudara dalam waktu yang bersamaan mengalami musibah bencana dan kehilangan.

Kita doakan agar mereka semua diberikan kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi bencana di awal tahun ini, serta sepatutnya kita kuatkan empati, simpati untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang terkena  musibah. Dalam hal menghadapi musibah, ada dua hal yang perlu kita ingat untuk mendapatkan pelajaran daripadanya:

1.      Pertama, bencana yang terjadi ketika kita berada dalam ketaatan kepada Allah SWT. Bencana yang seperti ini mengandung hikmah, walaupun kadang tidak diketahui orang yang mengalaminya. Datangnya tidak berbeda dengan seorang siswa yang harus menjalani ujian demi bisa naik kelas. Oleh karena itu, kalau kita ridha, Allah SWT pasti akan meningkatkan derajat kita.
“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al-Baqarah: 156-157]

2.      Kedua, bencana yang terjadi ketika kita berada dalam kemaksiatan kepada Allah SWT. Ini adalah siksaan dari Allah SWT. “Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).[Asy-Syura: 30]. 

      Hendaknya kita mencari-cari hikmah dalam bencana yang kedua seperti ini. Memikirkan hikmah saat itu sama saja berusaha membuat diri kita nyaman dengan kemaksiatan. Oleh karena itu, hendaknya bertobat kepada Allah SWT. Kalau memang dikatakan ada hikmahnya, tobat itulah hikmahnya. Sunnatullah: Maksiat Datang, Nikmat Hilang. Selain itu, kemaksiatan juga bisa menghilangkan nikmat-nikmat. “Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al-Anfal: 53].

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” [Ar-Ra’du: 11].

Hadirin jamaah jum’at rohimakumullah, atas semua kejadian yang menimpa kita dan saudara-saudara kita, hal yang paling penting adalah kita tidak boleh kehilangan harapan. Harapan untuk mendapatkan yang lebih baik dibanding dengan tahun-tahun yang telah kita lewati. Dengan harapan baiklah kita akan berdiri tegak menyongsong setiap detik setiap saat hari-hari yang akan kita jalani dengan penuh semangat dan antusias. Tidak untuk berleha-leha, tidak untuk bermalas-malasan menjalani hidup hanya sedapatnya saja tanpa antusiasme tanpa kegigihan untuk berjuang.

Sebagai manusia yang diberikan karunia berupa akal pikiran serta fasilitas kehidupan yang melimpah di atas bumi. Tidak ada salahnya membuat perencanaan-perencanaan duniawi , ada target pencapaian yang ingin kita raih baik untuk sekala pribadi, keluarga hingga target memperbaiki  masyarakat yang lebih luas. Namun dibalik itu semua kitapun telah diingatkan agar mengarahkan semua aktivitas tersebut untuk kepentingan ukhrawi. Karena kiita diciptakan hanya untuk menyembah Allah subhanahu wata’ala.“Aku (kata Allah) tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menyembahnya.” 
 
Khatib juga mengingatkan, marilah kita melakukan tajdîdun niyat. Memperbahaui niat.  Niat adalah urusan hati.  Dari sinilah segala hal yang kita niatkan akan mempengaruhi segala macam hal. Niat baik yang terus dipupuk dengan pola fikir yang positif niscaya akan mengubah yang dianggap tidak mungkin akan menjadi mungkin, menjadi penguat untuk melawan kemustahilan menjadi sesuatu yang nyata bisa dibuktikan.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Umar bin Khattab radliyallahu ‘anh:   “Sesungguhnya segala amalan itu tergantung kepada niatnya; dan sesungguhnya tiap-tiap orang akan memperoleh balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya. 
 
Dalam perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer ada yang kita kenal dengan “Law Attraction” (Hukum tarik-menarik kehidupan). Bahwa apa yang kita niatkan, Apa yang kita pikirkan niscaya akan mempengaruhi lingkungan di sekeliling kita. Tanamkanlah untuk selalu berpikir positif, berpikir penuh optimis,agar energy hidup kitapun akan selalu diliputi energy positif.

Niat dan pikiran akan mempengaruhi emosi , emosi akan mempengaruhi keputusan, keputusan akan mempengaruhi tindakan, tindakan akan akan mempengaruhi hasil, hasil akan mempengaruhi nasib, nasib akan mempengaruhi jalan hiup. Karena itu, berhati-hatilah.  Jika pikirannya salah maka emosinyapun akan salah. Emosi salah akan membuat keputusan yang salah. Keputusan salah akan menghasilkan tindakan salah. Tindakan salah akan mendapatkan hasil yang salah. Hasil yang salah akan mengakibatkan nasib yang salah. Nasib salah maka hidupnyapun akan akan salah. Sebuah hadits Qudsi menyebutkan, Allah SWT berfirman “Sesungguhnya aku sesuai dengan persangkaan hambaku”.

Mulai saat ini, marilah memperbaiki kehidupan kita diawali dengan niat-pikiran yang baik-baik. Yakinlah bahwa hidup ini adalah indah. Diawali dengan melakukan kebaikan kecil, diantaranya dengan selalu menebar senyum sejak bangun tidur hingga kita kembali untuk rebah beristirahat di malam hari dengan penuh rasa syukur dan bahagia. Mudah-mudahan dengan langkah kecil yang kita lakukan dengan terus menerus akan mangawali perubahan hidup kita semua hal yang lebih besar akan menjadi lebih baik, menjadi lebih “feel good”. Akhirnya kesehatannya membaik. Ekonominya membaik, hubungan pergaulannya membaik, apakah pergaulan dengan sesame manusia bahkan dengan semua makhluk Allah yang ada di dunia semakin membaik. Hubungan dengan dengan Allah menjadi lebih baik.

Dengan terus-menerus energinya selalu dengan energy yang baik yang positif. Yakinlah kebahagiaan akan akan selalu mengiringinya ketika hidup di dunia ini, hingga kebahagiaan akhiratpun dipersiapkan dengan sebaik-baiknya ketika Allah masih memberikan kesempatan hidup di dunia ini.


Masjid darul Hijrah Pasarean 3-01-2020/7Jumadil awwal 1441 H

Rabu, 01 Januari 2020

NASAB BUKAN PENENTU NASIB DI PASAREAN

Nasab bukan penentu nasib di Pasarean, menjadi sangat penting sebagai motivasi bahwa siapapun kita, mempunyai kesempatan yang sama serta mempunyai hak yang sama untuk meraih kemajuan, namun dibalik itu semua, mengetahui nasab seseorang diperlukan sebagai pengingat bahwa asal mula kita berada dan hendak bagaimana manusia harus berbuat.

Tanpa maksud mengentalkan sikap primordial berdasarkan keturunan, apalagi panatisme dengan asal keturunan berikut ini sedikit catatan nasab mayoritan penduduk yang menghuni di Pasarean, baru berupa catatan 9 rumpun putra-putri Jasan Bin Kadi Bin Sailan. 

Perlu digaris bawahi,  catatan ini dapat dikatakan sebuah catatan dari sumber terserak, tentunya masih jauh dari kata lengkap. Perlu tambahan dan masukan untuk melengkapi apa yang belum tertulis sebagai upaya untuk mendokumentasi dengan harapan mendapat manfaat yang lebih banyak.

JASAN & SAIRAH BIN KADI BIN SAILAN

1.            MARI & SALEN Putra/putri:
  • A.            Mbah Arif > Anwar Arif. Sholeh Iskandar. Ahmad Khotib. Khodijah. Jumraeni.
  • B.            H. sadeli    > H. Enuy, Samsuri, Matin, Marwiyah, Julaeha, DLL
  • C.            H Aisyah   > H Mariyah. H atun. Juweriyah, KH Hasan Basri
  • D.            H Jenab    > Hindun, Emin, Mariyam, Jojoh, Ujang Mamad
  • E.            ……….... > Shalahudin Habsya. Ubed DLL
  • F.            H. Ibrohim >  Mustofa Badri DLL
  • G.           H Maemunah > Rubiah, Endah, Enjoh, Waesul Qorni
  • H.            H Ombah >  H Koyah, H Sarah, Sopiudin, Abdul Rojak DLL
  • I.             H. Abdurrohim > Endi Farid, Ruslan Agil DLL
  • J.            H. Abdulloh > Atikah, Rumsiah, Juju, Dudung, H Imas, H Ulan, H Uhen, Asep Khudori, Didin, Acim, Nyai Bedah, Jajay,  Idi Idrus, Piah, Ismail.


2.            H INOH   > :  H.Otoy Maksum, H.Emong, H.Adul, H Ciot, H Baedah  DLL.

3.            H.JAMIRIN   > : KH. Abdul Hamid, H Eroh, H Lasmanah, H Ingum, H. Sholeh Fajar DLL.

4.            H. MARIN  > :  Madrasad, DLL 

5.            H.SAHENO  > :  H.Upi, Ajun DLL ( Gn Bunder) 

6.            H JENAH    > :  H.sadid, H Kasum DLL ( Kp Legok Cilengkong)

7.            H ENOT    >: Abdul  Majid, Sarbini, Husnah, Kobtiah, Jubaedi, Rukmini, Hasan Permana


8.            H. ITI > : Otoy Siroj, H Maja, DLL (Kaung Gading)

9.            ABU DEWI  Putra/putri :
  • A.            Wirda > Cacih, Jajang Atmaja
  • B.            H Icih > Mimi Jamilah, Enjen, Abdurrohman, Cucup, Nanah, Yayat
  • C.            H Masitah > Ujang Burhan, Oo, DLL
  • D.            Siti Bariyah > Yoyoh Maesyaroh, Dadang , Kamaludin, Popoh, Jajuli