Penghujung tahun 2019 dirasa berbeda bagi warga yang berada di wilayah Jabodetabek dan sebagian besar wilayah Indonesia.
Sore hari tanggal 31 Desember 2019 cuaca mendung yang berlanjut menjadi hujan yang tak henti hingga esok harinya. Awal tahun, 1 januari 2020 adalah cerita yang patut dituliskan bahkan direnungkan.
Ada banyak rencana dari banyak orang.
Ada banyak acara yang dipersiapkan.
Ada banyak tempat sudah ditentukan lokasinya.
Manusia punya rencana, Allah jua yang menentukan.
Hujan turun hingga rabu siang telah mengubah rencana-rencana itu. Berdiam diri di dalam rumah adalah cara paling nyaman dalam menyambut datangnya tahun baru 2020, bahkan tempat tidur menjadi lebih menarik dibanding harus memaksakan diri keluar rumah.
Suara petasan yang menggelagar bersahutan mengiringi pergantian tahun, tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Sorak sorai kegembiraan tak bergemuruh lagi terdengar.
Kekuasaan Allah tengah dipertunjukan dihadapan makhluknya melalui turunnya hujan, agar manusia ingat dan mawas diri, kita adalah makhluk lemah.
Tanpa ada yang bisa menolaknya musibah itu datang di banyak tempat. Banjir dan longsor menjadi nestapa yang dirasakan dalam mengawali awal tahun.
Ada banyak kehilangan, ada kesedihan yang menghiasi setelah datangnya bencana.
Semua terjadi dengan kuasa dan kehendak sang pencipta pemilik jagat raya. Pasti ada hikmah atas terjadinya semua ini.
Dua tahun berturut-turut kita diingatkan dengan terjadinya bencana alam diwaktu yang mendekati pergantian tahun.
Tsunami di pantai selatan Banten. Anyer, Carita hingga Sawarna menjadi cerita pilu ketika air bah itu datang menghempaskan harta-benda hingga nyawa di sepanjang garis pantai.
Akhir 2019 - awal 2020 musibah itu datang kembali di lain tempat.
Jakarta, Tangerang, Depok, Bekasi Kebanjiran karena curah hujan tinggi. Air tidak bisa mengalir. Tumpukan sampah. Resapan air yang beralih fungsi. Drainase tersumbat, semuanya karena ulah manusia.
Banjir hujatan-cacian di belantara media sosial tak kalah derasnya mengiringi musibah kepada sang Gubernur Jakarta yang jadi tertuduh.
Bogor dan Kabupaten Lebak harus mersakan duka yang dalam. Banjir dan longsor telah memporak porandakan apa yang selama ini telah dibangun. Puluhan nyawa tak tertolong hingga yang tak dapat diketemukan melengkapi kesedihan warga yang terkena bencana.
Introspeksi itu keharusan. Pemerintah. Penegak hukum. Para pengusaha. Dan Siapapun kita!?
Alam sudah banyak dirusak oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab.
Bahkan yang paling kecilpun kita telah banyak mendzolimi kelestarian alam. Hanya untuk sekedar membuang bungkus permen saja kita bahkan acuh membuangnya dengan benar.
Kita terlalu sering masa bodoh dampak yang ditimbulkan dari cara kita memperlakukan alam semesta dengan ramah dan rasa syukur.
Musibah tidak akan datang tanda seizin yang maha kuasa.
Eratkan empati, simpati dan solusi. Bukan basa-basi atau mencitrakan diri.
Kita bangsa yang tangguh menerima cobaan. Dan akan memperbaiki diri.
350 tahun dijajah. Aceh luluh lantak diterjang Tsunami. Krisis 1998 telah menempa kehidupan berbangsa.
Kita bisa bangkit. Kita bisa tetap berdiri. Kita bisa tetap bersatu tanpa disintegrasi.
Hikmah dan harapan selalu terbuka untuk kita resapi.
Mari saling memperbaiki diri
Tahun 2020 kita masih boleh bermimpi.
Tahun 2020, masih ada harapan di tengah bencana.
Hasbunallaah wani'mal wakiil. Ni'mal maulaa wani'mannasiir.
Pasarean,4012020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar