Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, Alhamdulillah,
kita semua diberikan nikmat oleh Allah subhanahu wata’ala, nikmat iman, nikmat
sehat, sehingga bisa menjalankan ibadah shalat Jumat pada tanggal 7 Jumadil awwal 1441 H/ 3 Januari 2020,
sembari bersilaturrahim dengan keluarga, karib kerabat, tetangga serta
handai taulan. Shalawat dan salam semoga
senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam yang sangat kita harapkan syafaatnya kelak di hari kiamat.
Hadirin jamaah Jumat
rohimakumullah, Pada kesempatan khutbah Jumat ini, khatib tidak
lupa mengingatkan dan mengajak, marilah
kita meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala,
dengan menjalankan semua perintahnya dan menjauhi larangannya, takwa di mana
pun kita berada, di tempat kerja, di jalan raya, di tempat-tempat umum, di
tempat sepi maupun di tempat ramai, semoga kita tetap istiqomah menjalankan
ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala.
Dua hari yang lalu kita telah memasuki tahun baru syamsiyah 2020. Beberapa di antara
kita melakukan refleksi akhir tahun, lalu membuat perencanaan-perancanaan di
awal tahun 2020, menyampaikan resolusi di tahun 2020, berharap tahun ini lebih
baik dari tahun kemarin dan semua terget kita bisa tercapai.
Pada awal tahun 2020 juga, patut kita syukuri bahwa kita yang berkumpul
di mesjid yang mulia ini, ataupun yang mendengarkan pengeras suara ini mengakhiri tahun 2019 dan menyongsong tahun
2020 dengan keadaan aman, tenang dan diberi keselamatan, walaupun dari sore
hari hingga ketemu pagi di awal tahun 2020 sebagian besar ditemani dengan hujan
yang tak henti. Ada banyak saudara dalam waktu yang bersamaan mengalami musibah
bencana dan kehilangan.
Kita doakan agar mereka semua diberikan kesabaran dan
kekuatan dalam menghadapi bencana di awal tahun ini, serta sepatutnya kita
kuatkan empati, simpati untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang
terkena musibah. Dalam hal menghadapi musibah,
ada dua hal yang perlu kita ingat untuk mendapatkan pelajaran daripadanya:
1. Pertama, bencana yang terjadi ketika kita berada
dalam ketaatan kepada Allah SWT. Bencana yang seperti ini mengandung hikmah,
walaupun kadang tidak diketahui orang yang mengalaminya. Datangnya tidak
berbeda dengan seorang siswa yang harus menjalani ujian demi bisa naik kelas.
Oleh karena itu, kalau kita ridha, Allah SWT pasti akan meningkatkan derajat
kita.
“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa
musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” Mereka
itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan
mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al-Baqarah: 156-157]
2. Kedua, bencana yang terjadi ketika kita berada
dalam kemaksiatan kepada Allah SWT. Ini adalah siksaan dari Allah SWT. “Dan apa
musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu
sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari
kesalahan-kesalahanmu).[Asy-Syura: 30].
Hendaknya kita mencari-cari
hikmah dalam bencana yang kedua seperti ini. Memikirkan hikmah saat itu sama
saja berusaha membuat diri kita nyaman dengan kemaksiatan. Oleh karena itu,
hendaknya bertobat kepada Allah SWT. Kalau memang dikatakan ada hikmahnya,
tobat itulah hikmahnya. Sunnatullah: Maksiat Datang, Nikmat Hilang. Selain itu,
kemaksiatan juga bisa menghilangkan nikmat-nikmat. “Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya
Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya
kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka
sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
[Al-Anfal: 53].
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum
sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila
Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat
menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
[Ar-Ra’du: 11].
Hadirin jamaah jum’at rohimakumullah, atas semua kejadian
yang menimpa kita dan saudara-saudara kita, hal yang paling penting adalah kita
tidak boleh kehilangan harapan. Harapan untuk mendapatkan yang lebih baik dibanding
dengan tahun-tahun yang telah kita lewati. Dengan harapan baiklah kita akan
berdiri tegak menyongsong setiap detik setiap saat hari-hari yang akan kita
jalani dengan penuh semangat dan antusias. Tidak untuk berleha-leha, tidak
untuk bermalas-malasan menjalani hidup hanya sedapatnya saja tanpa antusiasme
tanpa kegigihan untuk berjuang.
Sebagai manusia yang diberikan karunia berupa akal pikiran
serta fasilitas kehidupan yang melimpah di atas bumi. Tidak ada salahnya
membuat perencanaan-perencanaan duniawi , ada target pencapaian yang ingin kita
raih baik untuk sekala pribadi, keluarga hingga target memperbaiki masyarakat yang lebih luas. Namun dibalik itu
semua kitapun telah diingatkan agar mengarahkan semua aktivitas tersebut untuk
kepentingan ukhrawi. Karena kiita diciptakan hanya untuk menyembah Allah
subhanahu wata’ala.“Aku (kata
Allah) tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk
menyembahnya.”
Khatib juga mengingatkan, marilah kita melakukan tajdîdun niyat.
Memperbahaui niat. Niat adalah urusan
hati. Dari sinilah segala hal yang kita
niatkan akan mempengaruhi segala macam hal. Niat baik yang terus dipupuk dengan
pola fikir yang positif niscaya akan mengubah yang dianggap tidak mungkin akan menjadi
mungkin, menjadi penguat untuk melawan kemustahilan menjadi sesuatu yang nyata
bisa dibuktikan. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat
Umar bin Khattab radliyallahu ‘anh:
“Sesungguhnya segala amalan itu tergantung kepada niatnya; dan
sesungguhnya tiap-tiap orang akan memperoleh balasan sesuai dengan apa yang
diniatkannya.
Dalam perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer ada yang
kita kenal dengan “Law Attraction” (Hukum tarik-menarik kehidupan). Bahwa apa
yang kita niatkan, Apa yang kita pikirkan niscaya akan mempengaruhi lingkungan
di sekeliling kita. Tanamkanlah untuk selalu berpikir positif, berpikir penuh
optimis,agar energy hidup kitapun akan selalu diliputi energy positif.
Niat dan pikiran akan mempengaruhi emosi , emosi akan
mempengaruhi keputusan, keputusan akan mempengaruhi tindakan, tindakan akan akan
mempengaruhi hasil, hasil akan mempengaruhi nasib, nasib akan mempengaruhi
jalan hiup. Karena itu, berhati-hatilah.
Jika pikirannya salah maka emosinyapun akan salah. Emosi salah akan
membuat keputusan yang salah. Keputusan salah akan menghasilkan tindakan salah.
Tindakan salah akan mendapatkan hasil yang salah. Hasil yang salah akan
mengakibatkan nasib yang salah. Nasib salah maka hidupnyapun akan akan salah.
Sebuah hadits Qudsi menyebutkan, Allah SWT berfirman “Sesungguhnya aku sesuai
dengan persangkaan hambaku”.
Mulai saat ini, marilah memperbaiki kehidupan kita diawali
dengan niat-pikiran yang baik-baik. Yakinlah bahwa hidup ini adalah indah.
Diawali dengan melakukan kebaikan kecil, diantaranya dengan selalu menebar
senyum sejak bangun tidur hingga kita kembali untuk rebah beristirahat di malam
hari dengan penuh rasa syukur dan bahagia. Mudah-mudahan dengan langkah kecil yang
kita lakukan dengan terus menerus akan mangawali perubahan hidup kita semua hal
yang lebih besar akan menjadi lebih baik, menjadi lebih “feel good”. Akhirnya
kesehatannya membaik. Ekonominya membaik, hubungan pergaulannya membaik, apakah
pergaulan dengan sesame manusia bahkan dengan semua makhluk Allah yang ada di
dunia semakin membaik. Hubungan dengan dengan Allah menjadi lebih baik.
Dengan terus-menerus energinya selalu dengan energy yang
baik yang positif. Yakinlah kebahagiaan akan akan selalu mengiringinya ketika
hidup di dunia ini, hingga kebahagiaan akhiratpun dipersiapkan dengan
sebaik-baiknya ketika Allah masih memberikan kesempatan hidup di dunia ini.
Masjid darul Hijrah Pasarean 3-01-2020/7Jumadil awwal 1441 H
Tidak ada komentar:
Posting Komentar