Jumat, 03 Januari 2020

KHUTBAH AWAL TAHUN 3 JANUARI 2020


Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, Alhamdulillah, kita semua diberikan nikmat oleh Allah subhanahu wata’ala, nikmat iman, nikmat sehat, sehingga bisa menjalankan ibadah shalat Jumat  pada tanggal 7 Jumadil awwal 1441 H/ 3 Januari 2020, sembari bersilaturrahim dengan keluarga, karib kerabat, tetangga serta handai taulan.  Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat kita harapkan syafaatnya kelak di hari kiamat.  

Hadirin jamaah Jumat  rohimakumullah, Pada kesempatan khutbah Jumat ini, khatib tidak lupa  mengingatkan dan mengajak, marilah kita meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala, dengan menjalankan semua perintahnya dan menjauhi larangannya, takwa di mana pun kita berada, di tempat kerja, di jalan raya, di tempat-tempat umum, di tempat sepi maupun di tempat ramai, semoga kita tetap istiqomah menjalankan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala. 
 
Dua hari yang lalu kita telah memasuki  tahun baru syamsiyah 2020. Beberapa di antara kita melakukan refleksi akhir tahun, lalu membuat perencanaan-perancanaan di awal tahun 2020, menyampaikan resolusi di tahun 2020, berharap tahun ini lebih baik dari tahun kemarin dan semua terget kita bisa tercapai.  

Pada awal tahun 2020 juga,  patut kita syukuri bahwa kita yang berkumpul di mesjid yang mulia ini, ataupun yang mendengarkan pengeras suara ini  mengakhiri tahun 2019 dan menyongsong tahun 2020 dengan keadaan aman, tenang dan diberi keselamatan, walaupun dari sore hari hingga ketemu pagi di awal tahun 2020 sebagian besar ditemani dengan hujan yang tak henti. Ada banyak saudara dalam waktu yang bersamaan mengalami musibah bencana dan kehilangan.

Kita doakan agar mereka semua diberikan kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi bencana di awal tahun ini, serta sepatutnya kita kuatkan empati, simpati untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang terkena  musibah. Dalam hal menghadapi musibah, ada dua hal yang perlu kita ingat untuk mendapatkan pelajaran daripadanya:

1.      Pertama, bencana yang terjadi ketika kita berada dalam ketaatan kepada Allah SWT. Bencana yang seperti ini mengandung hikmah, walaupun kadang tidak diketahui orang yang mengalaminya. Datangnya tidak berbeda dengan seorang siswa yang harus menjalani ujian demi bisa naik kelas. Oleh karena itu, kalau kita ridha, Allah SWT pasti akan meningkatkan derajat kita.
“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al-Baqarah: 156-157]

2.      Kedua, bencana yang terjadi ketika kita berada dalam kemaksiatan kepada Allah SWT. Ini adalah siksaan dari Allah SWT. “Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).[Asy-Syura: 30]. 

      Hendaknya kita mencari-cari hikmah dalam bencana yang kedua seperti ini. Memikirkan hikmah saat itu sama saja berusaha membuat diri kita nyaman dengan kemaksiatan. Oleh karena itu, hendaknya bertobat kepada Allah SWT. Kalau memang dikatakan ada hikmahnya, tobat itulah hikmahnya. Sunnatullah: Maksiat Datang, Nikmat Hilang. Selain itu, kemaksiatan juga bisa menghilangkan nikmat-nikmat. “Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al-Anfal: 53].

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” [Ar-Ra’du: 11].

Hadirin jamaah jum’at rohimakumullah, atas semua kejadian yang menimpa kita dan saudara-saudara kita, hal yang paling penting adalah kita tidak boleh kehilangan harapan. Harapan untuk mendapatkan yang lebih baik dibanding dengan tahun-tahun yang telah kita lewati. Dengan harapan baiklah kita akan berdiri tegak menyongsong setiap detik setiap saat hari-hari yang akan kita jalani dengan penuh semangat dan antusias. Tidak untuk berleha-leha, tidak untuk bermalas-malasan menjalani hidup hanya sedapatnya saja tanpa antusiasme tanpa kegigihan untuk berjuang.

Sebagai manusia yang diberikan karunia berupa akal pikiran serta fasilitas kehidupan yang melimpah di atas bumi. Tidak ada salahnya membuat perencanaan-perencanaan duniawi , ada target pencapaian yang ingin kita raih baik untuk sekala pribadi, keluarga hingga target memperbaiki  masyarakat yang lebih luas. Namun dibalik itu semua kitapun telah diingatkan agar mengarahkan semua aktivitas tersebut untuk kepentingan ukhrawi. Karena kiita diciptakan hanya untuk menyembah Allah subhanahu wata’ala.“Aku (kata Allah) tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menyembahnya.” 
 
Khatib juga mengingatkan, marilah kita melakukan tajdîdun niyat. Memperbahaui niat.  Niat adalah urusan hati.  Dari sinilah segala hal yang kita niatkan akan mempengaruhi segala macam hal. Niat baik yang terus dipupuk dengan pola fikir yang positif niscaya akan mengubah yang dianggap tidak mungkin akan menjadi mungkin, menjadi penguat untuk melawan kemustahilan menjadi sesuatu yang nyata bisa dibuktikan.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Umar bin Khattab radliyallahu ‘anh:   “Sesungguhnya segala amalan itu tergantung kepada niatnya; dan sesungguhnya tiap-tiap orang akan memperoleh balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya. 
 
Dalam perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer ada yang kita kenal dengan “Law Attraction” (Hukum tarik-menarik kehidupan). Bahwa apa yang kita niatkan, Apa yang kita pikirkan niscaya akan mempengaruhi lingkungan di sekeliling kita. Tanamkanlah untuk selalu berpikir positif, berpikir penuh optimis,agar energy hidup kitapun akan selalu diliputi energy positif.

Niat dan pikiran akan mempengaruhi emosi , emosi akan mempengaruhi keputusan, keputusan akan mempengaruhi tindakan, tindakan akan akan mempengaruhi hasil, hasil akan mempengaruhi nasib, nasib akan mempengaruhi jalan hiup. Karena itu, berhati-hatilah.  Jika pikirannya salah maka emosinyapun akan salah. Emosi salah akan membuat keputusan yang salah. Keputusan salah akan menghasilkan tindakan salah. Tindakan salah akan mendapatkan hasil yang salah. Hasil yang salah akan mengakibatkan nasib yang salah. Nasib salah maka hidupnyapun akan akan salah. Sebuah hadits Qudsi menyebutkan, Allah SWT berfirman “Sesungguhnya aku sesuai dengan persangkaan hambaku”.

Mulai saat ini, marilah memperbaiki kehidupan kita diawali dengan niat-pikiran yang baik-baik. Yakinlah bahwa hidup ini adalah indah. Diawali dengan melakukan kebaikan kecil, diantaranya dengan selalu menebar senyum sejak bangun tidur hingga kita kembali untuk rebah beristirahat di malam hari dengan penuh rasa syukur dan bahagia. Mudah-mudahan dengan langkah kecil yang kita lakukan dengan terus menerus akan mangawali perubahan hidup kita semua hal yang lebih besar akan menjadi lebih baik, menjadi lebih “feel good”. Akhirnya kesehatannya membaik. Ekonominya membaik, hubungan pergaulannya membaik, apakah pergaulan dengan sesame manusia bahkan dengan semua makhluk Allah yang ada di dunia semakin membaik. Hubungan dengan dengan Allah menjadi lebih baik.

Dengan terus-menerus energinya selalu dengan energy yang baik yang positif. Yakinlah kebahagiaan akan akan selalu mengiringinya ketika hidup di dunia ini, hingga kebahagiaan akhiratpun dipersiapkan dengan sebaik-baiknya ketika Allah masih memberikan kesempatan hidup di dunia ini.


Masjid darul Hijrah Pasarean 3-01-2020/7Jumadil awwal 1441 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar