Kenangan pertemuan dengan beliau kembali melintas setelah mendengar kepergiannya minggu 29 januari 2017. Ketika itu untuk sebuah keperluan kami harus menemui beliau, berkat bantuan dan rekomendasi seorang purek UNJ sedikit petunjuk bisa kami dapatkan untuk bisa menemuinya.
Dengan berbekal no hp, kami mencoba untuk menghubunginya, rupanya karena kesibukannya mengajar dan mengisi berbagi macam acara, nomor yang dimilikinya ternyata sering dinon aktifkan.
Akhirnya cara lain ditempuh agar bisa berjumpa dengannya, dengan cara sedikit bergerilya dan bertanya kesana kemari ruang kerjanya di lingkungan pasca sarjana UNJ dapat juga kami ditemukan. Dengan hanya waktu 5 menit untuk audiensi, karena harus segera mengisi jadwal mengajar akhirnya beliaupun mengundang kami untuk datang ke rumahnya di bilangan Pasar minggu Jakarta Selatan.
Setelah pertemuan di rumahnya, interaksi kami berlanjut dengan menjadikan beliau sebagai pembicara di beberapa acara kependidikan yang kami adakan.
Penguasaan tentang dunia pendidikan yang dimilikinya telah memberikan warna tersendiri dalam setiap paparan yang disampaikannya, banyak sekali beberapa kebijakan pendidikan hasil dari pemikiran beliau, diantara torehannya adalah alokasi APBN 20% untuk pendidikan, jejak pergumulan dengan dunia pendidikan terbilang cukup panjang, dimulai semenjak beliau menjadi seorang dosen hingga menjadi rektor di IKIP Jakarta ( UNJ), berlanjut menjadi atase pendidikan di Jerman dan Dirjen di Kemendikbud.
Di masa senjanya beliau tetap aktif mengajar di almamater yang telah beliau bina (UNJ), mendirikan organisasi ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia), penasehat PB PGRI, pernah pula menjadi anggota MPR dari utusan golongan serta aktif di beberapa organisasi, karena sejak muda beliau begitu aktif di GMNI.
Satu yang paling diingat darinya, beliau adalah seorang "Sukarnois" dan begitu membanggakan buah pikir para pendiri bangsa yang telah merumuskan konstitusi negara sebagai negara kesejahteraan (welfare state) yang patut dibanggakan, dan menurutnya hanya beberapa negara yg memiliki landasan konstitusi seperti itu, salah satunya adalah negara Indonesia yang tergambar dalam pembukaan UUD 45 yang menjelaskan diantara tujuan bernegara adalah:"Memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa".
Pertemuan terakhir dengan beliau di sebuah acara simposium yang di adakan oleh organisasi besutan Surya Paloh sebelum akhirnya menjadi partai politik ormas "Nasional Demokrat", beliaupun menjadi pengurus didalamya bersama Buya Syafi'i Ma'arif, Sri Sultan Hamengku Buwono X dan yang lainnya.
Gajah mati meninggalkan gading, engkau meninggalkan kami bersama kenangan dan karya untuk bangsa ini. Buku yang telah engkau titipkan yang berjudul "Arah Dan Landasan Pendidikan Kita", akan menjadi pengingat kenangan bersamamu.
" Selamat jalan Prof"...!! Do'a terbaik dari kami selalu menyertaimu...
Senin, 30 Januari 2017
Story Of Kastrologi
Terlintas begitu saja sebuah ujaran yang kini entah masih dikenal atau malah banyak dilupakan orang tentang "kastrologi",Ini bukan disiplin ilmu, apalagi aliran keyakinan atau idiologi. Ujaran ini lebih dekat dengan kaum "sarungan" yang telah dengan setia menemaninya siang dan malam.
Kastrol hanyalah sebuah benda yang umum dipakai untuk menanak nasi atau ngeliwet, saking dekatnya dengan kaum sarungan ini dalam kesehariaannya, jadilah yang pada awalnya hanya sebuah seloroh menjadi brand tersendiri dengan ujaran "kastrologi".
Peran kastrol tidak bisa dipandang remeh dalam membentuk sebuah prilaku sosial dan kepribadian, kalau ditarik ke belakang, kastrologi telah memupuk semangat juang melawan penjajah, mempertahankan kehormatan NKRI yang dirongrong kaum palu arit dengan perlawanan yang sengit agar Indonesia bisa tetap tegak berdiri sesuai dengan cita-cita konstitusi yang disepakati.
Kondisi kekinian, kastrologi tidak harus dipersamakan dengan orang- orang yang pernah merasakan sentuhannya, tetapi semangat kastrologi patut menjadi contoh dalam membangun sikap dan kepribadian yang patut dicontoh.
"Kastrologi mengajarkan kesederhanaan serta kerendahan hati"...
"Kastrologi mengajarkan kejujuran"...
"Kastrologi mengajarkan kesetia kawanan dan kerelaan untuk berbagi"...
"Kastrologi menuntun kedisiplinan dan keteguhan dalam bersikap"...
Belum pernah merasakan hasil olahan memakai kastrol?
Cobalah sekali-kali rasakan kenikmatannya..!
Entah mengapa nasi keraknya selalu jadi " rebutan"..??
Kastrol hanyalah sebuah benda yang umum dipakai untuk menanak nasi atau ngeliwet, saking dekatnya dengan kaum sarungan ini dalam kesehariaannya, jadilah yang pada awalnya hanya sebuah seloroh menjadi brand tersendiri dengan ujaran "kastrologi".
Peran kastrol tidak bisa dipandang remeh dalam membentuk sebuah prilaku sosial dan kepribadian, kalau ditarik ke belakang, kastrologi telah memupuk semangat juang melawan penjajah, mempertahankan kehormatan NKRI yang dirongrong kaum palu arit dengan perlawanan yang sengit agar Indonesia bisa tetap tegak berdiri sesuai dengan cita-cita konstitusi yang disepakati.
Kondisi kekinian, kastrologi tidak harus dipersamakan dengan orang- orang yang pernah merasakan sentuhannya, tetapi semangat kastrologi patut menjadi contoh dalam membangun sikap dan kepribadian yang patut dicontoh.
"Kastrologi mengajarkan kesederhanaan serta kerendahan hati"...
"Kastrologi mengajarkan kejujuran"...
"Kastrologi mengajarkan kesetia kawanan dan kerelaan untuk berbagi"...
"Kastrologi menuntun kedisiplinan dan keteguhan dalam bersikap"...
Belum pernah merasakan hasil olahan memakai kastrol?
Cobalah sekali-kali rasakan kenikmatannya..!
Entah mengapa nasi keraknya selalu jadi " rebutan"..??
Langganan:
Postingan (Atom)