Menghindari sesat pikir dan sesat logika memerlukan
pengetahuan untuk membedakan mana jalan berpikir yang benar. Mana pula cara
berpikir yang tidak benar, cara berpikir yang boleh dilakukan sebagai tanda manusia berakal, juga bagaimana untuk menghindari cara berpikir salah.
Pikiran dan akal budi adalah karunia Tuhan yang diberikan kepada manusia. Sebagai bentuk rasa syukur atas karunia ini, sudah seharusnya akal pikiran dipergunakan dengan sebaik-baiknya dengan berlandaskan pakem cara berpikir serta logika yang benar agar tidak terjerumus pada sesat pikir.
Jika tidak dibekali pengetahuan dan mengenali tanda-tanda
bahwa kita sudah tersesat. Maka akan mudah untuk menghakimi bahwa orang lain
telah melakukan sesat pikir, tapi sesungguhnya, dirinya yang sesat pikir.
Banyak orang yang justru mengalami kesalahan berpikir dan mengira sesuatu
sebagai benar. Padahal logikanya justru keliru.
Berikut ini paling tidak ada 18 tanda ketika melakukan
interaksi dengan orang lain untuk kita kenali agar tidak terperosok dalam sesat
pikir yang terkadang membahayakan. 17 tanda ini dikutip dari tulisan seorang Doktor
antropologi abangda : Yusran Darmawan yang menyelesaikan S1-nya di Universitas
Hasanudin. S2 di Universitas Indonesia dan S3 di Negeri Paman Sam.
1.
Pertama. “ AD HOMINEM”, yang berarti menyerang
karakter atau kehidupan personal lawan untuk melumpuhkan argumennya. Nama
panjangnya adalah argumentum ad hominem. Bentuknya adalah kita berhadapan
dengan argumentasi, namun kita justru menyerang si pemberi argumentasi itu
dengan hal-hal lain tentang pribadinya yang tak ada hubungannya dengan
argumentasi itu.
Misalnya, Bob Dylan adalah musisi hebat. Kita
lalu menyerang argumentasi itu dengan pernyataan bahwa “Bob Dylan kan seorang
pemabuk, artinya musiknya tidak bagus.” Nah, jika kita berargumentasi seperti
ini, kita telah mengalami kesalahan berpikir sebab kita menyerang hal negatif
yang tak ada kaitannya dengan apa yang sedang dibahas.
2.
Kedua,” POST HOC ERGO PROPTER HOC”. Kesalahan
berpikir ini ketika menganggap dua hal memiliki kaitan secara langsung. Saat X
terjadi, Y juga terjadi. Tiba-tiba kita menyimpulkan X adalah penyebab
terjadinya Y. Misalnya seorang politisi tiba-tiba terpilih jadi pemimpin.
Pada saat terpilih, semua harga daging
langsung meroket naik. Orang yang mengaitkan naiknya harga daging karena
naiknya politisi itu bisa jadi mengidap salah berpikir.
3.
Ketiga, “PARS PRO TOTO”. Ini adalah anggapan
satu bagian kecil merupakan cerminan keseluruhan. Misalnya, seseorang
dikhianati kekasihnya yang berasal dari Makassar. Ia lalu mengumpat dan
mengatakan, "Semua orang Makassar adalah buaya." Nah, dia mengalami
kekeliruan berpikir sebab pengalaman bertemu satu orang, tiba-tiba dianggap
mewakili keseluruhan orang Makassar.
Dalam diskusi politik, kita sering menemukan
pemikiran seperti ini. Misalnya, seseorang membaca berita tentang ada warga
keturunan yang divonis korupsi. Ia lalu menggeneralisir bahwa semua warga
keturunan seperti itu. Ia lalu membenci setengah mati.
Padahal, faktanya, pelaku korupsi itu berasal
dari berbagai etnik dan agama. Malah, ada pula pelaku korupsi yang rekan
sekampungnya. Ada yang ketahuan, dan ada yang tidak ketahuan.
4. Keempat, “ARGUMENTUM AD BACULUM”. Berusaha
memaksa lawan untuk menerima pendapat dengan cara memberikan rasa takut.
Misalnya pernyataan, "Kalau kamu tidak terima kebenaran ini, silakan
keluar dari agama. Saya akan keluarkan fatwa agar anda kafir, lalu anda akan
jadi sasaran kemarahan publik." Nah, ada beberapa hal yang bisa disoroti
dari pernyataan ini; (1) sejak kapan dia seolah jadi juru bicara satu
keyakinan, (2) sejak kapan kebenaran harus dipaksakan dnegan ancaman?
5. Kelima, “ANECDOTAL”. Yakni menggunakan cerita
personal untuk membuktikan "fakta" universal, khususnya untuk
melumpuhkan data dan statistik. Ini juga seirng ditemukan. Misalnya ada survey
yang menyebutkan bahwa orang Indonesia rata-rata bahagia, tiba-tiba kita
merespon. “Ah saya justru merasa tidak bahagia. Riset itu malah ngawur.”
Nah, ini juga termasuk anecdotal atau salah
pikir. Artinya, kita menggunakan cerita pribadi untuk menggugurkan satu
argumentasi yang sifatnya universal.
6.
Keenam, “BLACK OR WHITE”. Kepercayaan bahwa
hanya ada dua alternatif kemungkinan. Kalau bukan A yang benar, maka pastilah B
yang benar
7.
Ketujuh, “ARGUMENTUM AD VERECUNDIAM”. Pandangan
ini adalah pandangan yang mendewakan pendapat seseorang, dan menganggap
pendapat itu sudah pasti benar. Dalam politik, hal ini sering terjadi. Saat
idolanya, yakni Si A, mengeluarkan fatwa, maka ia lantas beranggapan bahwa itu
sudah pasti benar. Saat ada suara kritis, orang itu akan balik bertanya,
"Anda berani mengkritik dia. Apakah anda sehat?"
Dalam logika, seringkali argumentum ad
verecundiam ini dipersamakan dengan “halo effect.” Ini juga cara berpikir yang
sering kita temukan di media sosial. Halo effect adalah bias subyektif saat
pertama bertemu seseorang, yang lalu digunakan untuk menganggap semua
kalimatnya benar. Istilah “halo effect” boleh jadi dipengaruhi oleh kisah
tentang para santo atau manusia suci sebagaimana lukisan dari abad pertengahan
yang di kepalanya ada lingkaran (halo). Kesan saat bertemu “manusia halo”
seperti ini adalah kita akan menganggap dirinya suci sehingga semua argumennya
diterima mentah-mentah.
8.
Kedelapan, “APPEAL TO EMOTION”. Ini adalah
memanipulasi tindakan emosional untuk menyatakan kebenaran. Misalnya, anda
pernah dikasari seorang yang agamanya adalah menyembah pohon. Saat diskusi
dengan penganut agama itu, anda langsung emosional dan menangis terisak demi
meyakinkan betapa jahatnya para penyembah pohon. Perdebatan yang harusnya jadi
ajang positif untuk menumbuhkan pengetahuan, kok malah jadi baper.
9.
Kesembilan,”STRAWMAN”. Dalam logika, ini disebut
melebih-lebihkan, menyalah-artikan, atau bahkan memalsukan argumen seseorang
demi membuat argumen Anda yang menyerangnya terdengar lebih masuk akal.
Misalnya pejabat A berargumen bahwa
berdasarkan pengamatannya di lapangan, nelayan dan petani tidak senang dengan
koperasi karena yang mendapatkan modal hanya pengurusnya saja, sehingga hal ini
perlu diperbaiki. Mendengar hal tersebut, lawan politik si A menyatakan bahwa
si A menolak koperasi. Bahwa si A berkata koperasi tidak diperlukan di desa.
Contoh lain bisa dikemukakan. Seorang pejabat
berkata, “Kita harus fokus memperkuat industri kita.” Seseorang lalu merespon,
“Kalau memperkuat industri, berarti anda mengabaikan pertanian dan pedesaan.
Berarti anda benci dengan sektor pedesaan. Mengapa anda membenci desa?” Nah,
ini dia yang disebut strawman.
10.
Kesepuluh, “SLIPERY SLOPE”. Mengasumsikan jika
situasi P terjadi, maka Q akan juga terjadi, tanpa didukung dengan bukti atau
penalaran yang masuk akal. Karena itu, P tidak boleh terjadi. Misalnya, seorang
pejabat pemerintahan menolak melegalkan pernikahan beda keyakinan, sebab jika
diperbolehkan kelak mereka akan melegalkan pernikahan sesama jenis di masa
depan. Ini juga kekeliruan logika, sebab dua hal itu adalah hal berbeda.
11.
Kesebelas,”TU WUOQUO”. Menghindar dari kritik sekaligus
mendiskreditkan lawan dengan menggunakan kritik yang sama yang disampaikan pada
dirinya. Misalnya seorang ayah mengingatkan anaknya, "Nak, kamu jangan
merokok ya. Merokok itu merugikan kesehatanmu." Lalu, si anak menjawab,
"Ah, Ayah merokok tiap hari masih kelihatan sehat kok. Berarti merokok itu
tidak ada hubungannya dengan kesehatan."
Atau pernyataan lain. Misalnya:
“Berhati-hatilah main proyek. Bisa-bisa kamu akan masuk penjara.” Tiba-tiba ada
yang menyanggah: “Siapa bilang main proyek harus berhati-hati? Buktinya situ
sejak dulu selalu main proyek, Artinya aman dong.” Nah, kita membalas kritikan
dengan cara mendiskreditkan si pengkritik.
12.
Kedua belas, “BURDEN OF PROOF”. Menyatakan bahwa
orang lainlah yang harus membuktikan suatu klaim, bukan si pembuat klaim.
Misalnya Seorang sering berpikir seperti
ini. Ia melempar berbagai isu-isu tanpa data dan fakta. Dikarenakan tidak ada
yang menanggapinya, ia merasa di atas angin. Ia pikir dirinya benar. Saat
seseorang tersinggung lalu melaporkan dirinya ke polisi, ia malah ingin minta
maaf dan minta kasusnya dianggap selesai. Aneh.
Dalam logika, burden of proof ini hampir sama
dengan argumentum ad ignorantiam, yakni menganggap suatu hal sebagai kebenaran,
hanya karena orang-orang diam atau tidak ada orang yang menyanggahnya. Padahal,
orang lain memilih diam karena merasa tak ada gunanya berdebat dengan
seseorang. Kata satu ujaran, “Yang waras, ngalah!”
13.
Ketiga belas,”BADWAGON”. Keyakinan bahwa jika
suatu hal itu populer dan dipercayai banyak orang, maka hal itu adalah
kebenaran yang valid, tanpa perlu menyelidikinya lebih lanjut. Misalnya banyak
orang yang menganggap bahwa si A itu seorang yang tidak baik. Karena pandangan
itu dianut mayoritas orang, ia pun ikut-ikutan percaya dengan apa yang disampaikan.
Ia ibarat gerbong (bandwagon) yang ditarik
oleh satu lokomotif. Mungkin ia berpendapat berbeda, cuma karena ia takut untuk
berbeda pandangan dengan publik, ia ikut saja ke mana arus akan menyeretnya. Di
tataran politik kita, banyak lembaga survei yang hendak berperan sebagai
penarik bandwagon opini publik.
14.
Keempat belas, “APPEAL TO AUTORITY”. Kepercayaan
pada otoritas. Misalnya saat pemerintah menyatakan satu informasi benar, maka
ia lantas dengan mudahnya percaya. Ia lalu mengabaikan berbgai penalaran lain
yang belu tentu sejalan dengan pemikiran pemerintah. Atau kita ambil contoh
lain. Saat ada lembaga menyatakan sesuatu itu haram, maka ia dengan serta-merta
langsung dipercaya, tanpa mengujinya secara kritis.
15.
Kelima belas, “PERSONAL INCREDULITY”. Menganggap
sesuatu tidak benar hanya karena susah dipahami. Misalnya seorang politisi
mengklaim ia punya ribuan relawan, yang bisa digerakkan karena adanya kesamaan
visi serta pola kerja yang efektif. Seseorang
tiba-tiba saja menolak mentah-mentah kalimat itu, hanya karena dirinya tidak
memahami bagaimana konsep partisipasi publik serta strategi membangun tim yang
kokoh. Dia tidak paham, malas menalar, lalu menganggap ide itu keliru.
16.
Keenam belas,”APPEAL TO NATURE”. Ini adalah
kepercayaan bahwa sesuatu itu valid atau benar karena sifatnya yang natural
seperti itu. Misalnya kepercayaan bahwa seorang pemimpin itu harus gagah, penuh
keberanian, serta punya seragam militer. Keberanian seolah identik dengan
seragam.
17.
Keenambelas, “GENETIC”. Menilai satu pernyataan
baik atau tidak hanya berdasarkan pada dari mana pernyataan itu berasal, tanpa
disertai argumentasi yang valid. Misalnya hanya karena diberitakan korupsi,
petinggi satu partai lalu menyatakan, kita harus berhati-hati pada informasi
dari media A karena sering mendiskreditkan kita. Harusnya ia akan
mengintropeksi diri lalu menjelaskan duduk perkara, bukannya menyalahkan pihak
lain.
18.
Kedelapan belas, “NON CAUSE PRO CAUSE”. Ini
adalah penarikan kesimpulan yang keliru. Misalnya pernyataan bahwa Sukarno
menjadi presiden pertama Indonesia karena dia orang Jawa. Pernyataan ini dibuat
tanpa memperhatikan berbagai aspek lain. Pastilah akan muncul pernyataan,
mengapa harus Sukarno? Bukankah ada banyak orang Jawa lainnya?
Dengan mengenali delapan belas ciri ini, cara berpikir yang
salah yang membuat logika yang sesatpun dapat kita hindari. Selamat berpikir.