Sabtu, 23 Desember 2023

INTELEKTUAL PEMEGANG ARIT

Drs Muchsin Ismail sebagaimana layaknya anak muda tahun 80an tumbuh dalam suasana kebebasan berekspresi buah dari lingkungan pergaulan dan pendidikan baik yang dibekali oleh kedua orang tua sederhana pendidik yang baik dan menjadi panutan banyak orang yaitu Hj Lilis Badriah dan KH Hasan Basri yang telah melahirkannya di sebuah kampung yang kental suasana keagamaan, persaudaraan, perjuangan dan pengorbanan buah yang ditanam para  tetua pendiri kampung. 

Mahasiswa jurusan Filsafat yang menimba ilmu di Universitas Ibnu Khaldun Bogor berkembang menjadi  intelektual muda yang tercermin dari pemikiran dan ide-ide segar penuh kebaruan, kenangan kecil terhadap beliau tergambar ketika di ruang-ruang kelas dalam menyampaikan mata pelajaran yang diampunya dengan pemaparan tidak terpaku dengan apa tema pelajaran saat itu, beliau mampu membawa keluar dari batasan-batasan pemikiran teks book, kejutan-kejutan yang out the book menjadi ciri khas dari penyampaiannya, hal ini tidak mungkin dapat dilakukan jika nutrisi pengetahuannya tidak ditunjang dari kesehariannya yang tak lepas dari bacaan-bacaan bernas  menulusuri jejak akademis para intelektual dari jurnal – jurnal ilmiah seperti majalah Prisma yang rutin jadi santapannya serta buku-buku yang menemaninya setiap saat, tak ada waktu yang terlewatkan tanpa tenggelam menyelami kedalaman makna karya-karya terbaik apa yang beliau baca.

Selain  akrab dengan buku-buku, dalam keseharian sejauh yang penulis kenal beliau tak ubahnya sebagai masyarakat biasa mampu berbaur dengan baik dengan lingkungannya berinteraksi dalam kegiatan sosial, sebagai contoh dalam olah raga terutama volley ball beliau menjadi kepercayaan tim menempati tosser dalam memberikan umpan jitu untuk dieksekusi para spiker, tak ayal dalam memberikan motivasi sesama tim sambil berbisik penuh canda “Passing yang bener atuh jangan budugan”, dengan penuh senyuman kita menerimanya karena disampaikan tanpa menyalahkankan apalagi menyakiti.

Dalam beberapa interaksi dengan beliau kerendahan hatinya terpancar baik dalam obrolan ringan mengenai beberapa hal maupun diskusi serius yang biasa dilakukan dalam rapat- rapat juga pertemuan rutin bulanan dengan beliau sebagai pemangku pendidikan di Yayasan Darul Hijrah, beliau adalah pendengar yang baik pendapat orang lain tetapi mampu menyampaikan ide dan pendapatnya tanpa meledak – ledak penuh kesantunan,  tak pernah satu kalipun penulis dapati dalam situasi apapun beliau melontarkan yang provokatif, menyemburkan kata-kata berbau bensin yang menyakiti orang lain, semuanya terukur karena dibekali ilmu yang dimiliki serta akhlak baik yang melekat pada dirinya.

Dalam sebuah kesempatan ketika penulis harus menemuinya di kebun yang berada di belakang rumahnya sempat terkaget – kaget karena dengan lincahnya tanpa canggung sedang memegang arit menyambit rumput, ternyata beliau memelihara beberapa ekor kambing yang diurus langsung, arit ditangan menebas dengan baik helai demi helai rumput tanpa harus menanggalkan intektualitas dan kesantunan dalam bersikap.

Kini Intelektual pemegang arit itu telah pergi di hari penuh kemuliaan di saat do’a –do’a dan nasihat kebaikan dilantunkan, lahir pada tanggal 18 September 1965 Allah telah mencukupkan usiamu di hari jum'at tepat jam 11.25 tanggal 15 Desember 2023

Terima kasih atas inspirasi yang telah engkau tanamkan.

Terima kasih atas kesan baik yang engkau tinggalkan.

Engaku orang sholih yang layak dikenang buat kami semua.

Selamat jalan pak guru. Selamat jalan teman. Selamat jalan saudaraku. Selamat jalan wahai orang baik.

Semoga Allah selalu menyayangimu dalam limpahan ampunan dan rahmat dariNya….

Selasa, 25 April 2023

QUO VADIS DARUL HIJRAH KITA?

Oleh: Abdul Hapid

(Sekretaris Umum Yayasan Darul Hijrah)

“Siapa yang banyak memberi dia akan banyak menerima” sebuah ungkapan yang terlontar dalam khutbah idul fitri 1444 H di lapangan Ibnu Hajar Yayasan Darul Hijrah Pasarean, kata – kata  sangat sederhana tetapi memiliki makna yang cukup dalam untuk menggugah kita semua dalam memaknai idul fitri tahun ini.

Darul Hijrah sebagai  entitas berbadan hukum mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dengan Yayasan – yayasan pada umumnya, ditilik dari legalitas serta aksistensinya tidaklah berbeda dengan yang lain semuanya tunduk dengan aturan dan perundang-undangan di Negara Republik Indonesia, yang membedakan Darul Hijrah dengan yang lain adalah, inilah yayasan yang didirikan secara kolektif oleh para veteran pejuang kemerdekaan Republik Indonesia dalam mewujudkan cita-cita mengisi kemerdekaan dengan rentetan perjalanan membangun masyarakat  yang sejahtera dan berkeadaban atau awal mulanya dikenal untuk mewujudkan masyarakat dalam bingkai “Qoryah Toyyibah” dan yayasan ini disepakati sebagai milik masyarkat dan menjadi milik bersama di Pasarean.

Secara de jure pengukuhan pendirian Yayasan Darul Hijrah terlaksana pada tanggal 21 januari 1981 bertepatan dengan 15 rabi’ul awwal 1401 Hijriah oleh Notaris Ali Harsoyo di Jakarta, inilah sebuah keberlanjutan perjuangan dan pengabdian kepada masyarakat dalam bidang pendidikan, keagamaan dan sosial, dan salah satu core perjuangan dan pengabdian yang paling berkelindan keberadaannya di Yayasan darul Hijrah adalah dalam pengelolaan pendidikan.

MI Ibnu Hajar merupakan salah satu tonggak pendidikan formal yang mula-mula didirikan yang pada awalnya bernama MI LP PUI Pasarean ( Lembaga Pendidikan Persatuan Ummat Islam ) yang kemudian ditegaskan dalam sebuah piagam pendirian yang diterbitkan oleh Kanwil Departemen Agama Provinsi Jawa Barat dengan nomor: W.i/HK.008/1991 tanggal 1 Mei 1991, Nomor Register: 01/05/153 untuk Madrasah Ibtidaiyah PUI I Pasarean dan 01/05/154 untuk Madrasah Ibtidaiyah PUI II Pasarean, registrasi ini dilakukan setelah 10 tahun Yayasan Darul Hijrah didirikan.

Pekerjaan rumah untuk membenahi Yayasan Darul Hijrah masih teramat banyak untuk bisa diselesaikan, dalam hal ini tentu tidak dapat dilakukan oleh satu dua orang atau yang ditunjuk sebagai pengurus dalam mengelola Yayasan Darul Hijrah saja, perlu keterlibatan semua pihak agar cita-cita besar Yayasan Darul Hijrah dalam memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakatnya dapat terwujud dan dirasakan manfatnya secara bersama-sama.

Langkah –langkah kecil dan terukur sudah dilakukan, kesadaran pengabdian perlu saling menguatkan, jika sudah tiba pada waktunya dengan penuh kesadaran untuk “Mewujudkan Yayasan Darul Hijrah yang Mandiri, Modern dan Religius dalam Melayani Ummat” yang tertuang dalam Visi Yayasan akan kita rasakan bersama manfaatnya.

Premis dari kutipan khutbah idul fitri kali ini menjadi spirit bersama untuk  melipatgandakan semangat berinfak, bersedekah dan berwakaf, tidak hanya berbentuk harta atau materi, pemikiran dan perjuangan untuk membesarkan Yayasan Darul Hijrah hendaknya menjadi komitmen bersama yang secara konsisten dan persisten kita lakukan bersama-sama, izinkan penulis mengutip apa yang disampaikan oleh salah seorang pembina Yayasan Darul Hijrah, alm KH Yusuf Supendi: "Sebaiknya orang yang mau jadi pengurus Yayasan Darul Hijrah ini adalah orang - orang yang sudah selesai dengan dirinya", sehingga dengan penuh kesadaran dan kesungguhan mencurahkan pengabdian dan tidak  akan mencari penghidupan dalam Yayasan, menghindari sepenuhnya untuk memperkaya diri, yakinlah bahwa Allah sang maha pencatat, maha penghitung serta maha pemberi balasan atas apa yang kita lakukan. Baik- buruk, banyak – sedikit adalah buah dari apa yang kita tanam dan tak akan tertukar dalam pandangan Allah subhaanahu wa ta’ala.

Quo Vadis Darul Hijrah kita?...

- Maka, ke manakah kamu akan pergi?

- Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. 

- (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. 

-Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. ( At Takwir ayat 26- 29)

Ja'alanallaahu minal 'aaidiin walfaiziin. Mohon maaf lahir dan batin.

Pasarean, 24 April 2023/04 Syawwal 1444. H