Drs Muchsin Ismail sebagaimana layaknya anak muda tahun 80an tumbuh dalam suasana kebebasan berekspresi buah dari lingkungan pergaulan dan pendidikan baik yang dibekali oleh kedua orang tua sederhana pendidik yang baik dan menjadi panutan banyak orang yaitu Hj Lilis Badriah dan KH Hasan Basri yang telah melahirkannya di sebuah kampung yang kental suasana keagamaan, persaudaraan, perjuangan dan pengorbanan buah yang ditanam para tetua pendiri kampung.
Mahasiswa jurusan Filsafat yang menimba ilmu di Universitas Ibnu Khaldun Bogor berkembang menjadi intelektual muda yang tercermin dari pemikiran dan ide-ide segar penuh kebaruan, kenangan kecil terhadap beliau tergambar ketika di ruang-ruang kelas dalam menyampaikan mata pelajaran yang diampunya dengan pemaparan tidak terpaku dengan apa tema pelajaran saat itu, beliau mampu membawa keluar dari batasan-batasan pemikiran teks book, kejutan-kejutan yang out the book menjadi ciri khas dari penyampaiannya, hal ini tidak mungkin dapat dilakukan jika nutrisi pengetahuannya tidak ditunjang dari kesehariannya yang tak lepas dari bacaan-bacaan bernas menulusuri jejak akademis para intelektual dari jurnal – jurnal ilmiah seperti majalah Prisma yang rutin jadi santapannya serta buku-buku yang menemaninya setiap saat, tak ada waktu yang terlewatkan tanpa tenggelam menyelami kedalaman makna karya-karya terbaik apa yang beliau baca.
Selain akrab dengan buku-buku, dalam keseharian sejauh yang penulis kenal beliau tak ubahnya sebagai masyarakat biasa mampu berbaur dengan baik dengan lingkungannya berinteraksi dalam kegiatan sosial, sebagai contoh dalam olah raga terutama volley ball beliau menjadi kepercayaan tim menempati tosser dalam memberikan umpan jitu untuk dieksekusi para spiker, tak ayal dalam memberikan motivasi sesama tim sambil berbisik penuh canda “Passing yang bener atuh jangan budugan”, dengan penuh senyuman kita menerimanya karena disampaikan tanpa menyalahkankan apalagi menyakiti.
Dalam beberapa interaksi dengan beliau kerendahan hatinya terpancar baik dalam obrolan ringan mengenai beberapa hal maupun diskusi serius yang biasa dilakukan dalam rapat- rapat juga pertemuan rutin bulanan dengan beliau sebagai pemangku pendidikan di Yayasan Darul Hijrah, beliau adalah pendengar yang baik pendapat orang lain tetapi mampu menyampaikan ide dan pendapatnya tanpa meledak – ledak penuh kesantunan, tak pernah satu kalipun penulis dapati dalam situasi apapun beliau melontarkan yang provokatif, menyemburkan kata-kata berbau bensin yang menyakiti orang lain, semuanya terukur karena dibekali ilmu yang dimiliki serta akhlak baik yang melekat pada dirinya.
Dalam sebuah kesempatan ketika penulis harus menemuinya di kebun yang berada di belakang rumahnya sempat terkaget – kaget karena dengan lincahnya tanpa canggung sedang memegang arit menyambit rumput, ternyata beliau memelihara beberapa ekor kambing yang diurus langsung, arit ditangan menebas dengan baik helai demi helai rumput tanpa harus menanggalkan intektualitas dan kesantunan dalam bersikap.
Kini Intelektual pemegang arit itu telah pergi di hari penuh kemuliaan di saat do’a –do’a dan nasihat kebaikan dilantunkan, lahir pada tanggal 18 September 1965 Allah telah mencukupkan usiamu di hari jum'at tepat jam 11.25 tanggal 15 Desember 2023
Terima kasih atas inspirasi yang telah engkau tanamkan.
Terima kasih atas kesan baik yang engkau tinggalkan.
Engaku orang sholih yang layak dikenang buat kami semua.
Selamat jalan pak guru. Selamat jalan teman. Selamat jalan saudaraku. Selamat jalan wahai orang baik.
Semoga Allah selalu menyayangimu dalam limpahan ampunan dan rahmat dariNya….