Sabtu, 23 Desember 2023

INTELEKTUAL PEMEGANG ARIT

Drs Muchsin Ismail sebagaimana layaknya anak muda tahun 80an tumbuh dalam suasana kebebasan berekspresi buah dari lingkungan pergaulan dan pendidikan baik yang dibekali oleh kedua orang tua sederhana pendidik yang baik dan menjadi panutan banyak orang yaitu Hj Lilis Badriah dan KH Hasan Basri yang telah melahirkannya di sebuah kampung yang kental suasana keagamaan, persaudaraan, perjuangan dan pengorbanan buah yang ditanam para  tetua pendiri kampung. 

Mahasiswa jurusan Filsafat yang menimba ilmu di Universitas Ibnu Khaldun Bogor berkembang menjadi  intelektual muda yang tercermin dari pemikiran dan ide-ide segar penuh kebaruan, kenangan kecil terhadap beliau tergambar ketika di ruang-ruang kelas dalam menyampaikan mata pelajaran yang diampunya dengan pemaparan tidak terpaku dengan apa tema pelajaran saat itu, beliau mampu membawa keluar dari batasan-batasan pemikiran teks book, kejutan-kejutan yang out the book menjadi ciri khas dari penyampaiannya, hal ini tidak mungkin dapat dilakukan jika nutrisi pengetahuannya tidak ditunjang dari kesehariannya yang tak lepas dari bacaan-bacaan bernas  menulusuri jejak akademis para intelektual dari jurnal – jurnal ilmiah seperti majalah Prisma yang rutin jadi santapannya serta buku-buku yang menemaninya setiap saat, tak ada waktu yang terlewatkan tanpa tenggelam menyelami kedalaman makna karya-karya terbaik apa yang beliau baca.

Selain  akrab dengan buku-buku, dalam keseharian sejauh yang penulis kenal beliau tak ubahnya sebagai masyarakat biasa mampu berbaur dengan baik dengan lingkungannya berinteraksi dalam kegiatan sosial, sebagai contoh dalam olah raga terutama volley ball beliau menjadi kepercayaan tim menempati tosser dalam memberikan umpan jitu untuk dieksekusi para spiker, tak ayal dalam memberikan motivasi sesama tim sambil berbisik penuh canda “Passing yang bener atuh jangan budugan”, dengan penuh senyuman kita menerimanya karena disampaikan tanpa menyalahkankan apalagi menyakiti.

Dalam beberapa interaksi dengan beliau kerendahan hatinya terpancar baik dalam obrolan ringan mengenai beberapa hal maupun diskusi serius yang biasa dilakukan dalam rapat- rapat juga pertemuan rutin bulanan dengan beliau sebagai pemangku pendidikan di Yayasan Darul Hijrah, beliau adalah pendengar yang baik pendapat orang lain tetapi mampu menyampaikan ide dan pendapatnya tanpa meledak – ledak penuh kesantunan,  tak pernah satu kalipun penulis dapati dalam situasi apapun beliau melontarkan yang provokatif, menyemburkan kata-kata berbau bensin yang menyakiti orang lain, semuanya terukur karena dibekali ilmu yang dimiliki serta akhlak baik yang melekat pada dirinya.

Dalam sebuah kesempatan ketika penulis harus menemuinya di kebun yang berada di belakang rumahnya sempat terkaget – kaget karena dengan lincahnya tanpa canggung sedang memegang arit menyambit rumput, ternyata beliau memelihara beberapa ekor kambing yang diurus langsung, arit ditangan menebas dengan baik helai demi helai rumput tanpa harus menanggalkan intektualitas dan kesantunan dalam bersikap.

Kini Intelektual pemegang arit itu telah pergi di hari penuh kemuliaan di saat do’a –do’a dan nasihat kebaikan dilantunkan, lahir pada tanggal 18 September 1965 Allah telah mencukupkan usiamu di hari jum'at tepat jam 11.25 tanggal 15 Desember 2023

Terima kasih atas inspirasi yang telah engkau tanamkan.

Terima kasih atas kesan baik yang engkau tinggalkan.

Engaku orang sholih yang layak dikenang buat kami semua.

Selamat jalan pak guru. Selamat jalan teman. Selamat jalan saudaraku. Selamat jalan wahai orang baik.

Semoga Allah selalu menyayangimu dalam limpahan ampunan dan rahmat dariNya….

Selasa, 25 April 2023

QUO VADIS DARUL HIJRAH KITA?

Oleh: Abdul Hapid

(Sekretaris Umum Yayasan Darul Hijrah)

“Siapa yang banyak memberi dia akan banyak menerima” sebuah ungkapan yang terlontar dalam khutbah idul fitri 1444 H di lapangan Ibnu Hajar Yayasan Darul Hijrah Pasarean, kata – kata  sangat sederhana tetapi memiliki makna yang cukup dalam untuk menggugah kita semua dalam memaknai idul fitri tahun ini.

Darul Hijrah sebagai  entitas berbadan hukum mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dengan Yayasan – yayasan pada umumnya, ditilik dari legalitas serta aksistensinya tidaklah berbeda dengan yang lain semuanya tunduk dengan aturan dan perundang-undangan di Negara Republik Indonesia, yang membedakan Darul Hijrah dengan yang lain adalah, inilah yayasan yang didirikan secara kolektif oleh para veteran pejuang kemerdekaan Republik Indonesia dalam mewujudkan cita-cita mengisi kemerdekaan dengan rentetan perjalanan membangun masyarakat  yang sejahtera dan berkeadaban atau awal mulanya dikenal untuk mewujudkan masyarakat dalam bingkai “Qoryah Toyyibah” dan yayasan ini disepakati sebagai milik masyarkat dan menjadi milik bersama di Pasarean.

Secara de jure pengukuhan pendirian Yayasan Darul Hijrah terlaksana pada tanggal 21 januari 1981 bertepatan dengan 15 rabi’ul awwal 1401 Hijriah oleh Notaris Ali Harsoyo di Jakarta, inilah sebuah keberlanjutan perjuangan dan pengabdian kepada masyarakat dalam bidang pendidikan, keagamaan dan sosial, dan salah satu core perjuangan dan pengabdian yang paling berkelindan keberadaannya di Yayasan darul Hijrah adalah dalam pengelolaan pendidikan.

MI Ibnu Hajar merupakan salah satu tonggak pendidikan formal yang mula-mula didirikan yang pada awalnya bernama MI LP PUI Pasarean ( Lembaga Pendidikan Persatuan Ummat Islam ) yang kemudian ditegaskan dalam sebuah piagam pendirian yang diterbitkan oleh Kanwil Departemen Agama Provinsi Jawa Barat dengan nomor: W.i/HK.008/1991 tanggal 1 Mei 1991, Nomor Register: 01/05/153 untuk Madrasah Ibtidaiyah PUI I Pasarean dan 01/05/154 untuk Madrasah Ibtidaiyah PUI II Pasarean, registrasi ini dilakukan setelah 10 tahun Yayasan Darul Hijrah didirikan.

Pekerjaan rumah untuk membenahi Yayasan Darul Hijrah masih teramat banyak untuk bisa diselesaikan, dalam hal ini tentu tidak dapat dilakukan oleh satu dua orang atau yang ditunjuk sebagai pengurus dalam mengelola Yayasan Darul Hijrah saja, perlu keterlibatan semua pihak agar cita-cita besar Yayasan Darul Hijrah dalam memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakatnya dapat terwujud dan dirasakan manfatnya secara bersama-sama.

Langkah –langkah kecil dan terukur sudah dilakukan, kesadaran pengabdian perlu saling menguatkan, jika sudah tiba pada waktunya dengan penuh kesadaran untuk “Mewujudkan Yayasan Darul Hijrah yang Mandiri, Modern dan Religius dalam Melayani Ummat” yang tertuang dalam Visi Yayasan akan kita rasakan bersama manfaatnya.

Premis dari kutipan khutbah idul fitri kali ini menjadi spirit bersama untuk  melipatgandakan semangat berinfak, bersedekah dan berwakaf, tidak hanya berbentuk harta atau materi, pemikiran dan perjuangan untuk membesarkan Yayasan Darul Hijrah hendaknya menjadi komitmen bersama yang secara konsisten dan persisten kita lakukan bersama-sama, izinkan penulis mengutip apa yang disampaikan oleh salah seorang pembina Yayasan Darul Hijrah, alm KH Yusuf Supendi: "Sebaiknya orang yang mau jadi pengurus Yayasan Darul Hijrah ini adalah orang - orang yang sudah selesai dengan dirinya", sehingga dengan penuh kesadaran dan kesungguhan mencurahkan pengabdian dan tidak  akan mencari penghidupan dalam Yayasan, menghindari sepenuhnya untuk memperkaya diri, yakinlah bahwa Allah sang maha pencatat, maha penghitung serta maha pemberi balasan atas apa yang kita lakukan. Baik- buruk, banyak – sedikit adalah buah dari apa yang kita tanam dan tak akan tertukar dalam pandangan Allah subhaanahu wa ta’ala.

Quo Vadis Darul Hijrah kita?...

- Maka, ke manakah kamu akan pergi?

- Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. 

- (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. 

-Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. ( At Takwir ayat 26- 29)

Ja'alanallaahu minal 'aaidiin walfaiziin. Mohon maaf lahir dan batin.

Pasarean, 24 April 2023/04 Syawwal 1444. H

Jumat, 04 Maret 2022

MEMOAR UNTUK AYAH

 

Diksi dan intonasinya tetap tegas tak berubah ketika memanggil satu persatu anak - anaknya, kondisi tubuh yang kian melemah di hari hari terakhir tak mengurangi semangatnya, panggilan yang terus berulang meminta untuk ditemani oleh anak yang dipanggilnya, napas yang tertatih pandangan yang layu kian menyaput usianya yang kian senja. 

Terlahir di hari sabtu 12 April tahun 1930, bertepatan dengan 14 dzulqo’dah 1348 Hijriyah dari pasangan H Abdul Wahab dengan Siti Jamilah. Majalengka adalah gudang pengalaman, lipatan kenangan masa kecil dengan getasnya mengalir jika diceritakan, tak ada gurat pikun ketajaman berpikirnya tetap kuat menyiratkan sebuah ketegasan dan keteguhan pendirian dalam bersikap. Begitulah konon orang yang berbintang Aries, pembawaannya selalu bersemangat, kemauannya kuat, energy kegembiraanya selalu muncul maka tak heran selain kalam-kalam Ilahi yang dengan pasih dilapalkan, kegemarannya bernyanyi melekat pada dirinya, jika cucu-cucunya sedang disampingnya lagu-lagu berbahasa Jepang, Belanda, Inggris bahasa Jawa dan Sunda terbiasa dengan riang ia nyanyikan untuk menghibur. 

Abdul Majid kecil turut merasakan betapa kolonialisme Belanda begitu getir merampas kebebasan dan harkat kemanusiaan, dalam satu cerita yang dituturkannya, pernah pada suatu masa dirinya harus menemani paman dan gurunya KH Abdul Halim dalam mengelola sebuah perguruan yang berdiri di tengah kota Majalengka, dibangun untuk mendidik, mengajarkan keilmuan juga menyemai kebebasan dan perjuangan melepaskan dominasi kolonialisme yang mencengkeram kuat waktu itu. 

Cara-cara yang dilakukan KH Abdul Halim seperti itu, rupanya sangatlah tidak disukai para meneer pendatang berambut pirang, yang kadung menikmati kekuasaan dan merasa lebih tinggi, angkuh mengangkangi hak-hak pribumi yang sebagian besar para petani, hingga dengan brutalnya perguruan “Majlisul Ilmi” diobrak abrik kaum penjajah, KH Abdul Halim sebagai pimpinan perguruan dituduh melakukan penghasutan dan makar terhadap para penjajah, akibatnya iapun diterungku dibalik jeruji penjara.

 Demi mengamankan dan kelangsungan pendidikan dan perjuangan perguruan, Abdul Majid kecil yang dianggap anak yang tidak mengerti apa apa diperintahkan menelusup ke perguruan yang sudah dirusak untuk menyelamatkan dokumen dan harta benda yang tersisa,  secara berlahan dan sembunyi  ia lakukan misi berbahaya tersebut, kemudian mengungsikannya ke sebuah perbukitan 16 kilometer dari tengah kota yang jauh dari keramaian, hingga pada satu saat Abdul Majid ketahuan para penjajah akhirnya iapun dikejar - kejar dan mengalami penyiksaan, penjara Belanda menjadi bagian perjalanan dalam perjuangan yang dilakukannya. 

Setelah para pendiri perguruan dibebaskan dari penjara kemudian hari,  di balik perbukitan yang sepi dengan sisa – sisa buku, kitab dan dokumen yang bisa diselamatkan, sang paman KH Abdul Halim membangun dan merintis kembali perguruan yang kemudian dinamakan "Santi Asromo", yang berarti Pondok/tempat yang sunyi mengganti nama perguruan dari Majlisul ilmi, kemudian Hayatul Qulub Persyarikatan Oelama kemudian berubah lagi menjadi Perikatan Oemat Islam. 

Menginjak usia remaja Abdul Majid  menimba ilmu di kota Solo di sebuah pondok di lingkaran KH Samanhudi pendiri Syarekat Dagang Islam, di sinilah keilmuan pengalaman  dan pergaulan mulai terasah, Solo telah menempa semua itu, salah satu kemampuan bahasa asing yang ia kuasai serta pergaulan dengan para saudagar pemilik usaha tenun rakyat yang bergabung dalam Syarikat Dagang Islam telah memberi bekal dalam berwirausaha serta jaringan usaha tenun rakyat selama di Solo yang kemudian ia kembangkan di tanah kelahirannya Majalengka. 

Tibalah waktunya selesai menimba ilmu di kota Solo, Abdul Majid muda yang masih energik membantu mengembangkan usaha tenun bersama ayahnya H Abdul Wahab, memanfaatkan jaringan pergaulan dengan para pengusaha ketika di Solo, memasarkan hasil usahanya hingga ke berbagai kota maka tak jarang perjalanan ke luar kota Majalengka adalah bagian dari keseharian yang ia lakukan. 

Berwira usaha dan berorganisasi adalah dua hal yang tak terpisahkan dalam perjalanan hidup Abdul Majid muda, berorganisasi dan berwirausaha dipadukan untuk saling menunjang keduanya, organisasi yang dijalankan bisa dengan ajeg penuh kemandirian dijalankan dengan baik tanpa bergantung belas kasihan menadah pemberian orang lain sehingga dapat melaksanakan program organisasi  dengan penuh percaya diri.

Salah satu fatsun kuat dalam berorganisasi yang selalu dijaga adalah kepatuhan mengikuti keputusan organisasi, siap sedia ketika instruksi disampaikan termasuk titah pimpinan perguruan "Perikatan Oemat Islam" KH Abdul Halim yang pada waktu itu juga aktif dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia, hari harinya tak lepas dari kesibukan untuk mencurahkan pikiran bersama para founding father lainnya merumuskan bentuk dan tatanan Negara baru yang akan didirikan di masa terakhir penjajahan Jepang, karena ia tercatat sebagai salah satu dari 67 orang anggota BPUPKI (Badan Pelaksana Persiapan Usaha Kemerdekaan Indonesia). 

Dalam menjalankan roda organisasi, KH Abdul Halim dibantu sepupunya  KH Abdul Wahab ayahanda Abdul Majid yang dpercaya untuk menjadi bendahara organisasi, lalu Abdul Majid muda ditugaskan menjadi duta ke beberapa wilayah dalam mengemban amanat dari dua orang yang dihormatinya tersebut.

 Kesatriaan di bilangan Berlan Matraman dan Cijantung adalah bagian dari jejak perjalanan dalam melaksanakan perintah orang tua dan gurunya tersebut, mengabdikan diri sebagai pendidik di lingkungan keluarga para tentara yang pada waktu itu  baru dibentuk setelah proklamasi Indonesia dikumandangkan. 

Tahun 1952 dalam sebuah kongres alim ulama di Cianjur, Abdul Majid muda dipertemukan dengan seorang ulama yang kharismatik dari Bogor KH Sholeh Iskandar  yang belum lama melepas gelar ketentaraan yang berpangkat Mayor, pernah memimpin satu grup Batalyon O Singadaru Hizbullah wilayah Bogor dan Banten. Abdul Majid begitu terpukau mendengarkan penyampaian pikiran-pikiran KH Sholeh Iskandar yang terasa segar dan brilian untuk membangun masyarakat yang baru lepas dari penjajahan. 

KH Sholeh Iskandar kemudian berpesan dan menitipkan Abdul Majid untuk mendampingi seorang tentara yang masih aktif Kapten Dasuki Bakri dan kemudian mengajaknya untuk ikut serta ke Bogor. Abdul Majid diminta memberikan kemampuan yang dimiliki untuk membantu membangun masyarakat di Bogor pada waktu itu dan iapun kemudian mengajak beberapa teman dan saudaranya yang sama- sama pernah mondok di kota Solo untuk turut serta ke Bogor. 

Dari Leuwiliang hingga Cigudeg, berpindah tempat demi mengabdikan dalam membangun pendidikan dibawah dua organisasi berbeda yang baru saja dipersatukan yang tercatat dalam sejarah, karena sebuah keistimewaan yang jarang terjadi dua kepentingaan dan latar belakang organisasi yang berbeda mau melebur menjadi satu, yaitu *Perikatan Oemat Islam dari Majalengka dengan organisasi Al Ittihadiyatul Islamiyah Indonesia (AII)  dari Sukabumi yang difusikan pada tanggal 5 April 1952 di Kota Bogor dan berubah nama menjadi "Persatuan Ummat Islam" (PUI), untuk keresidenan Bogor waktu itu diketuai KH Sholeh Iskandar , Kapten Dasuki Bakri sebagai sekretarisnya. 

Setelah berkeliling di beberapa wilayah di Bogor Barat, terakhir Abdul Majid yang berusia 22 tahun diboyong ke sebuah kampung yang baru selesai dibangun menjadi sebuah kampung baru, setelah sebelumnya kampung yang lama sebagai bagian taktik perjuangan sebagaimana halnya peristiwa "Bandung lautan api" sengaja dibakar oleh para pejuang revolusi pada saat agresi Belanda kedua tahun 1948 yang berniat melucuti perlengkapan dan perbekalan para tentara pejuang kemerdekaan, menyadari bahwa kekuatan para aggressor sangatlah tidak berimbang. 

Ketika kampung Pasarean lama dibumi hanguskan tanpa sisa, menurut kesaksian ibunda Siti Maesyaroh yang saat itu masih anak-anak, para penduduk kampung seluruhnya diungsikan ke berbagai wilayah di wilayah Bogor Barat dan Banten ibunda dengan neneknya mengungsi ke perbukitan wilayah Purwabakti Pamijahan, hingga kemudian setelah situasinya dirasa aman para pengungsi dan tetua kampung veteran  laskar Hizbullah kembali ke kampung halaman yang dicintainya dan sebagian besar para laskar tersebut melepas gelar ketentaraannya, mereka bersama para pengungsi kembali menata sebuah perkampungan baru pada tahun 1950 yaitu Kampung Pasarean baru dengan lokasi dan sistim penataan kampung yang baru juga hingga kampung ini pernah mendapatkan penghargaan daru UNESCO sebagai kampung modern pertama di dunia ketiga. 

Mengabdi dan mengamalkan ilmunya sekira 3 tahun di kampung Pasarean, Abdul Majid dititipkan oleh Kapten Dasuki Bakri kepada koleganya seorang veteran perang untuk tinggal di rumahnya yaitu KH Sholeh Fajar, setelah tinggal beberapa tahun KH Sholeh Fajar semakin  mengenal pribadi, pemikiran dan sepak terjang yang dilakukan Abdul Majid dengan penuh pertimbangan kemudian menjodohkannya dengan keponakanny anak dari sepupunya Siti Bariyah, gadis remaja berusia 15 tahun yang saat itu tinggal dan diurus oleh neneknya Abu Dewi Binti Jasan, tak lain adalah anak didik Abdul Majid sendiri yang bernama Siti Maesyaroh. 

Tahun 1956 mengawali  kehidupan rumah tangga di kota Majalengka, Abdul Majid kembali mengembangkan usaha tenun yang pernah digelutinya bekerjasama dengan beberapa saudagar lainnya yang ada di Keresidenan Cirebon, dalam perjalanannya kemudian membuat perhimpunan usaha di bawah "Koperasi Djojobojo",  perhimpunan ini berkembang cukup maju, hingga ketika Bung Karno menyampaikan bahwa Revolusi belum berakhir dan menyerukan untuk mengumpulkan Dana Revolusi, para saudagar ini mengumpulkan dana revolusi ini dibawah komando Kesultanan Cirebon. 

Di hari - hari terakhir usianya ayahanda selalu menyampaikan kepada semua anaknya bahwa dana revolusi ini tidak sepenuhnya digunakan oleh Negara, ayahanda sebagai bagian dari pengurus Koperasi Djojobojo pada waktu itu juga sebagai kuasa yang namanya tertuang dalam dokumen penyerahan dana revolusi bersama kesultanan Cirebon selalu mengatakan ada bagian dana revolusi tersebut  yang masih tersimpan di Kesultanan Cirebon yang masih bisa dipergunakan saat ini untuk kepentingan masyarakat banyak. 

Entahlah, ketika cerita Dana Revolusi ini ayahanda sampaikan dalam keadaan sudah tidak berdaya, selalu timbul pertanyaan apakah ini ada atau tiada? Antara percaya dan tidak atas apa yang diceritakannya, terlalu banyak cerita yang kita dapat di luaran mengiringi cerita dana revolusi ini, ditambah lagi gonjang –ganjing yang terjadi di kesultanan Cirebon saat ini, apakah ada hubungannya dengan apa yang ayahanda ceritakan. Akhirnya seperti semilir angina dana revolusi ada ceritanya namun entah bagaimana mencari jejaknya. 

Kami yakin ayahanda tidak pernah berbohong atas apa yang pernah ia lakukan, kamipun yakin ayahanda selalu menjaga untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya, apalagi dengan melakukan cara - cara tidak halal. 

Karena hidup harus diperjuangkan, pembuktiannya dilakukan dengan kerja nyata dan cara yang baik, cerita tentang dana revolusi biarlah menjadi bunga yang menghiasi dalam kecamuk revolusi dalam mempertahankan kemerdekaan pada waktu itu, fokus kita bukan di situ saat ini  teramat banyak lahan dan aktualisasi yang bisa kita perbuat, biarlah jika saatnya ditemukan jalannya pembuktiannya akan terbuka pada waktunya.

 Ayahanda Abdul Majid Sambil terus mengembangkan perniagaannya hingga merambah pemasarannya di wilayah Jawa Barat, keresidenan Cirebon hingga Jawa tengah, minat berorganisasinya tidak pernah padam. Namun situasi politik yang tidak menentu ketika Republik ini belum lama berdiri, berimbas dengan organisasi PUI yang telah menempanya dalam berorganisasi hingga dampaknya terasa ketika PUI waktu itu sebagai underbow partai Ma'syumi ketika partai ini kemudian dibubarkan tahun 1960. PUI-pun ikut meredup pada waktu itu karena selalu dibawah bayang-bayang pengawasan pemerintah orde lama. 

Minat organisasi Abdul Majid akhirnya berlabuh  masuk menjadi anggota organisasi Nahdlatul Ulama, iapun kemudian dipercaya menjadi pengurus Nahdlatul Ulama Kabupaten Majalengka dan ketika muktamar NU ke-13 tahun 1962 di kota Solo Abdul Majid  menjadi salah satu utusan dari Majalengka bahkan dalam satu dokumentasi peristiwa jabat tangannya dengan presiden Sukarno ia simpan, sekarang foto tersebut hilang jejaknya entah kemana, aktifnya di organisasi Nahdlatul Ulama menghantarkannya menjadi anggota DPR-GR Kabupaen Majalengka utusan dari NU selama dua priode

 Menjadi anggota DPRD pada waktu itu betul-betul sebuah pengabdian untuk masyarakat. Kesaksian ibunda Siti Maesyaroh bahwa ketika mendampingi ayahanda Abdul Majid menjadi anggota DPRD sangat jauh dari fasilitas, tidak seperti yang kita saksikan saat ini, hanya uang sidang saja yang diperoleh tidak ada yang lain. 

Sebagai anggota DPRD, tamu yang datangpun silih berganti ke rumah kami di Jalan Sarkosi kelurahan Majalengka Kulon kota Majalengka dan menjadikannya tempat persinggahan para konstituen dari berbagai pelosok desa, melayani tamu dengan sebaik- baiknya adalah tuntunan yang harus selalu ditunaikan,menyuguhi dengan layak dan memuliakannya adalah kebiasaan yang telah dicontohkan orang tua kami sebelumnya, memboyong jamaah sholat subuh masjid agung Al-Imam kota Majalengka untuk sarapan pagi di rumah kakek H Abdul Wahab adalah kesehariannya, tak ada yang berkurang ketika bersedekah ditambah perniagaan yang dilakukan sangat menunjang untuk melakukan itu semua, nama-nama seperti Rustana penilik Agama dari Jatitujuh, Ahmad Sobahi orang tua dari Karna Sobahi Bupati Majalengka saat ini adalah salah satu teman yang terbiasa singgah di rumah jalan Sarkosi. 

Gonjang ganjing politik tahun 1965 dengan pemberotakan PKI, akhirnya berdampak pada usaha tenun yang ayahanda jalankan, kekacauan dan  krisis terjadi di mana-mana melanda pada saat itu. Untuk bisa bertahan ayahandapun beralih haluan dengan membuka  lahan pertanian seluas 10 hektar di kawasan Sukamelang Kertajati Majalengka yang ia peroleh melalui perantara temannya H Rustana penilik Agama dibeli dari keuntungan usaha tenunnya. 

Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, usaha pertanian yang baru dirintis dengan menanam kacang tanah yang dibantu para pekerja dari Desa Ranji Jatiwangi belum sempat dipanen mengalami fuso dilanda kemarau panjang hingga 8 bulan sehingga mengalami gagal panen, lengkap sudah ujian yang ayahanda alami, belasan pekerja yang membantu akhirnyapun tak sanggup pula untuk dibiayai. 

Keadaan yang sulit saat itu  terdengar oleh celotehan anak kecil ketika diajak silaturahmi ke Bogor, mendorong nenek yang mengurus ibunda Siti Maesyaroh mengajaknya kembali untuk tinggal di Bogor, tahun 1967 bersama 4 orang anak serta 1 orang dalam kandungan kemudian harus memulai hidup baru di Bogor. 

Seiring berjalannya waktu aktifitas ayahanda dilakukan di Bogor ikut melebur dengan suasana yang terjadi di Bogor, hanya sesekali ayahanda mengunjungi kampung halamannya. Sukamelang dengan lahan pertanian 10 hektarnya seperti mimpi buruk yang pernah ayahanda alami, jangankan untuk mengurus surat - surat jual belinya untuk sekedar menengokpun tanah yang dibelinya tersebut ayahanda enggan melakukannya. 

Hingga melewat bilangan puluhan tahun ketika Bandara Kertajati sedang dibangun, lokasi tanah yang tidak jauh dari lokasi Bandara tersebut ingatan akan tanah miliknya muncul kembali, ayahanda baru mau menceritakan tanah yang didapat dari hasil tabungannya tersebut, dengan  bermodalkan cerita ayahanda kamipun menelusuri keberadaannya, namun sayang beribu sayang teman yang menjadi perantara ketika membelinya kemudian ia menitipkannya yaitu H Rustana juga telah lama meninggal dunia. 

Tak ada selembar kertaspun yang bisa kami bawa sebagai penguat kepemilikan tanah Sukamelang, yang kami dapat hanya kesaksian orang – orang yang pernah membantu menggarap  tanah ayahanda, mereka yang usianyapun sudah uzur ikut membenarkan bahwa tanah tersebut adalah telah dibeli dan menjadi milik ayahanda Abdul Majid. 

Sekian lama tinggal di Bogor yang menjadi bagian tak terpisahkan sejak tanah Majalengka ditinggalkan, menjadi petani adalah profesi yang dijalani ayahanda di atas tanah pemberian orang tua, menjadi pedagang di pasar induk Kramat Jati juga pernah dijalani, jatuh bangun terus silih berganti adalah cerita perjalanan hidupnya selama tinggal di Bogor. Minat organisasinya tetap dirawat, menjadi anggota dan komisaris ( ketua pengurus) Partai Persatuan Pembangunan kecamatan Cibungbulang cukup lama ia emban di saat kekuatan orde baru sedang kuat - kuatnya dan jabatan itu ia sudahi ketika datangnya masa reformasi dan orde baru ikut runtuh. 

Nopember 2018 sakit yang mendera mengharuskan ayahanda harus total tidak beranjak dari tempat tidur, April 2021 keadaannya semakin melemah untuk sekedar dudukpun ayahanda semakin tidak sanggup

Awal januari 2022 Decubitus (luka akibat kelamaan berbaring)semakin memperlemah kondisi tubuhnya, ingatannya masih kuat  suaranya masih lantang satu persatu anaknya ia panggil untuk mendekat, inilah seperti panggilan-panggilan Malaikat untuk menguji keimanan,kepatuhan, kesabaran, keikhlasan kami anak-anaknya atas kewajiban untuk berbakti kepada orang tua. 

Selasa 15 Februari 2022 menjelang purnama 13 rajab 1443 terbit, pangilan –panggilan itu di pagi hari masih dengan lantang terdengar ketenangan menyelimuti setelah itu. Jam 14.00 panggilan itu tak akan pernah terdengar lagi. Engkau ayahanda tidak bisa lagi memanggil, panggilan Sang pemilik nyawa telah mengakhiri semuanya.

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya.

Ayah, engkau bukanlah ayah yang sempurna, tapi kami bangga menjadi anakmu. Biarlah Rabbmu yang akan menyempurnakan di alam sana

Ayah. kejujuran, tidak mencuri, permudah urusan orang lain adalah petuahmu akan selalu kami pegang sampai kapanpun.

Selamat jalan ayah, maafkan anakmu yang tidak sepenuhnya bisa berbakti kepadamu.

 

 

 

Minggu, 20 Desember 2020

TIGA MENGUAK TAKDIR

 Tiga Menguak Takdir adalah judul buku yang ditulis oleh sastrawan Chairil Anwar, asrul Sani dan Rivai Avin yang saya sadur untuk sebuah perhelatan pemilihan kepala desa Pasarean kecamatan Pamijahan kabupaten Bogor, tanggal 20 Desember 2020.

Nu’man Satibi dan Dedi Furkon adalah tiga orang putra desa yang berada di persimpangan jalan untuk menuliskan nasibnya, hari ini nasib ketiganya sedang digurat dalam perjalanan takdir sejarah perjalanan kehidupan di desa Pasarean.

Memilih nomor satu, dua atau tiga apakah akan mengubah perjalanan takdir kehidupan kita juga? Jawabannya bisa ya – bisa tidak. Bagi para tim sukses serta orang – orang yang ada di lingkaran dekat para calon kepala desa Pasarean yang akan ditentukan hari ini untuk enam tahun ke depan, harapan kemenangan calon yang diusung adalah harapan yang menjadi tumpuan, entah itu menjadi tim perumus kebijakan pembangunan desa, berharap menjadi perangkat desa kah, atau hanya sekedar mendapat remah dari gempita proses pencalonan hingga pemilihan sebagai pendukung, penggembira dari kejauhan untuk kegembiraan dan senang – senang belaka

Pilihan hari ini harus kita tentukan! Ini adalah sebagai tanggung jawab moral dan sosial juga tanggung jawab spiritual yang sudah kita sepakati bersama, bahwa untuk menentukan Kepala desa dilakukan dengan memilih dari calon yang sudah ditentukan. Berapa banyak hasil pilihannya nanti mempengaruhi takdir perjalanan hidup kita itu soal lain, bagaimana cara kita memaknainya, Apakah akan digantungkan kepada calon- calon tersebut? Atau kita tetap berkeyakinan bahwa yang menentukan kehidupan kita hari ini serta masa depan adalah Diri sendiri serta sumber daya insani yang kita miliki dalam menjemput takdir yang telah Allah tentukan kepada semua makhluknya.

Sebagian kita adalah diri kita sendiri serta  kehidupan yang melekat tidak banyak dipengaruhi orang lain.

Setiap kita punya berlian diri yang tidak dimiliki orang lain.

Setiap kita punya nasib sendiri yang tidak dimiliki orang lain.

Setiap kita punya takdir sendiri yang bukan takdir orang lain.

Ceto welo – welo. Piraku kudu ngagantungkeun hirup ka papada jalma, padahal urang boga Pangeran nu maha beunghar jeung welas asih..

Ceto welo – welo. Piraku kudu papaseaan ku saukur beda pilihan.

Mari memilih dengan kegembiraan dan keakraban dengan sesama!

Jaga protokol kesehatan, pandemic covid 19 belum berakhir.

Jaga protokol silaturahmi karena itu modal hidup yang akan dibawa mati.

O ya! Ya nasib, nasibmu jelas bukan nasibku.

O ya! Ya nasib, nasibmu jelas bukan takdirku.

Senin, 13 Januari 2020

Menghindari Sesat Pikir Sesat Logika


Menghindari sesat pikir dan sesat logika memerlukan pengetahuan untuk membedakan mana jalan berpikir yang benar. Mana pula cara berpikir yang tidak benar, cara berpikir yang boleh dilakukan sebagai tanda manusia berakal, juga bagaimana untuk menghindari cara berpikir salah.

Pikiran dan akal budi adalah karunia Tuhan yang diberikan kepada manusia. Sebagai bentuk rasa syukur atas karunia ini, sudah seharusnya akal pikiran dipergunakan dengan sebaik-baiknya dengan berlandaskan pakem cara berpikir serta logika yang benar agar tidak terjerumus pada sesat pikir.

Jika tidak dibekali pengetahuan dan mengenali tanda-tanda bahwa kita sudah tersesat. Maka akan mudah untuk menghakimi bahwa orang lain telah melakukan sesat pikir, tapi sesungguhnya, dirinya yang sesat pikir. Banyak orang yang justru mengalami kesalahan berpikir dan mengira sesuatu sebagai benar. Padahal logikanya justru keliru.

Berikut ini paling tidak ada 18 tanda ketika melakukan interaksi dengan orang lain untuk kita kenali agar tidak terperosok dalam sesat pikir yang terkadang membahayakan. 17 tanda ini dikutip dari tulisan seorang Doktor antropologi abangda : Yusran Darmawan yang menyelesaikan S1-nya di Universitas Hasanudin. S2 di Universitas Indonesia dan S3 di Negeri Paman Sam.

1.       Pertama. “ AD HOMINEM”, yang berarti menyerang karakter atau kehidupan personal lawan untuk melumpuhkan argumennya. Nama panjangnya adalah argumentum ad hominem. Bentuknya adalah kita berhadapan dengan argumentasi, namun kita justru menyerang si pemberi argumentasi itu dengan hal-hal lain tentang pribadinya yang tak ada hubungannya dengan argumentasi itu.

Misalnya, Bob Dylan adalah musisi hebat. Kita lalu menyerang argumentasi itu dengan pernyataan bahwa “Bob Dylan kan seorang pemabuk, artinya musiknya tidak bagus.” Nah, jika kita berargumentasi seperti ini, kita telah mengalami kesalahan berpikir sebab kita menyerang hal negatif yang tak ada kaitannya dengan apa yang sedang dibahas.

2.       Kedua,” POST HOC ERGO PROPTER HOC”. Kesalahan berpikir ini ketika menganggap dua hal memiliki kaitan secara langsung. Saat X terjadi, Y juga terjadi. Tiba-tiba kita menyimpulkan X adalah penyebab terjadinya Y. Misalnya seorang politisi tiba-tiba terpilih jadi pemimpin.

Pada saat terpilih, semua harga daging langsung meroket naik. Orang yang mengaitkan naiknya harga daging karena naiknya politisi itu bisa jadi mengidap salah berpikir.

3.       Ketiga, “PARS PRO TOTO”. Ini adalah anggapan satu bagian kecil merupakan cerminan keseluruhan. Misalnya, seseorang dikhianati kekasihnya yang berasal dari Makassar. Ia lalu mengumpat dan mengatakan, "Semua orang Makassar adalah buaya." Nah, dia mengalami kekeliruan berpikir sebab pengalaman bertemu satu orang, tiba-tiba dianggap mewakili keseluruhan orang Makassar.

Dalam diskusi politik, kita sering menemukan pemikiran seperti ini. Misalnya, seseorang membaca berita tentang ada warga keturunan yang divonis korupsi. Ia lalu menggeneralisir bahwa semua warga keturunan seperti itu. Ia lalu membenci setengah mati.

Padahal, faktanya, pelaku korupsi itu berasal dari berbagai etnik dan agama. Malah, ada pula pelaku korupsi yang rekan sekampungnya. Ada yang ketahuan, dan ada yang tidak ketahuan.

4.     Keempat, “ARGUMENTUM AD BACULUM”. Berusaha memaksa lawan untuk menerima pendapat dengan cara memberikan rasa takut. Misalnya pernyataan, "Kalau kamu tidak terima kebenaran ini, silakan keluar dari agama. Saya akan keluarkan fatwa agar anda kafir, lalu anda akan jadi sasaran kemarahan publik." Nah, ada beberapa hal yang bisa disoroti dari pernyataan ini; (1) sejak kapan dia seolah jadi juru bicara satu keyakinan, (2) sejak kapan kebenaran harus dipaksakan dnegan ancaman?

5.     Kelima, “ANECDOTAL”. Yakni menggunakan cerita personal untuk membuktikan "fakta" universal, khususnya untuk melumpuhkan data dan statistik. Ini juga seirng ditemukan. Misalnya ada survey yang menyebutkan bahwa orang Indonesia rata-rata bahagia, tiba-tiba kita merespon. “Ah saya justru merasa tidak bahagia. Riset itu malah ngawur.”

Nah, ini juga termasuk anecdotal atau salah pikir. Artinya, kita menggunakan cerita pribadi untuk menggugurkan satu argumentasi yang sifatnya universal.

6.       Keenam, “BLACK OR WHITE”. Kepercayaan bahwa hanya ada dua alternatif kemungkinan. Kalau bukan A yang benar, maka pastilah B yang benar


7.       Ketujuh, “ARGUMENTUM AD VERECUNDIAM”. Pandangan ini adalah pandangan yang mendewakan pendapat seseorang, dan menganggap pendapat itu sudah pasti benar. Dalam politik, hal ini sering terjadi. Saat idolanya, yakni Si A, mengeluarkan fatwa, maka ia lantas beranggapan bahwa itu sudah pasti benar. Saat ada suara kritis, orang itu akan balik bertanya, "Anda berani mengkritik dia. Apakah anda sehat?"

Dalam logika, seringkali argumentum ad verecundiam ini dipersamakan dengan “halo effect.” Ini juga cara berpikir yang sering kita temukan di media sosial. Halo effect adalah bias subyektif saat pertama bertemu seseorang, yang lalu digunakan untuk menganggap semua kalimatnya benar. Istilah “halo effect” boleh jadi dipengaruhi oleh kisah tentang para santo atau manusia suci sebagaimana lukisan dari abad pertengahan yang di kepalanya ada lingkaran (halo). Kesan saat bertemu “manusia halo” seperti ini adalah kita akan menganggap dirinya suci sehingga semua argumennya diterima mentah-mentah.

8.       Kedelapan, “APPEAL TO EMOTION”. Ini adalah memanipulasi tindakan emosional untuk menyatakan kebenaran. Misalnya, anda pernah dikasari seorang yang agamanya adalah menyembah pohon. Saat diskusi dengan penganut agama itu, anda langsung emosional dan menangis terisak demi meyakinkan betapa jahatnya para penyembah pohon. Perdebatan yang harusnya jadi ajang positif untuk menumbuhkan pengetahuan, kok malah jadi baper.

9.       Kesembilan,”STRAWMAN”. Dalam logika, ini disebut melebih-lebihkan, menyalah-artikan, atau bahkan memalsukan argumen seseorang demi membuat argumen Anda yang menyerangnya terdengar lebih masuk akal.

Misalnya pejabat A berargumen bahwa berdasarkan pengamatannya di lapangan, nelayan dan petani tidak senang dengan koperasi karena yang mendapatkan modal hanya pengurusnya saja, sehingga hal ini perlu diperbaiki. Mendengar hal tersebut, lawan politik si A menyatakan bahwa si A menolak koperasi. Bahwa si A berkata koperasi tidak diperlukan di desa.

Contoh lain bisa dikemukakan. Seorang pejabat berkata, “Kita harus fokus memperkuat industri kita.” Seseorang lalu merespon, “Kalau memperkuat industri, berarti anda mengabaikan pertanian dan pedesaan. Berarti anda benci dengan sektor pedesaan. Mengapa anda membenci desa?” Nah, ini dia yang disebut strawman. 


10.   Kesepuluh, “SLIPERY SLOPE”. Mengasumsikan jika situasi P terjadi, maka Q akan juga terjadi, tanpa didukung dengan bukti atau penalaran yang masuk akal. Karena itu, P tidak boleh terjadi. Misalnya, seorang pejabat pemerintahan menolak melegalkan pernikahan beda keyakinan, sebab jika diperbolehkan kelak mereka akan melegalkan pernikahan sesama jenis di masa depan. Ini juga kekeliruan logika, sebab dua hal itu adalah hal berbeda.

11.   Kesebelas,”TU WUOQUO”.  Menghindar dari kritik sekaligus mendiskreditkan lawan dengan menggunakan kritik yang sama yang disampaikan pada dirinya. Misalnya seorang ayah mengingatkan anaknya, "Nak, kamu jangan merokok ya. Merokok itu merugikan kesehatanmu." Lalu, si anak menjawab, "Ah, Ayah merokok tiap hari masih kelihatan sehat kok. Berarti merokok itu tidak ada hubungannya dengan kesehatan."

Atau pernyataan lain. Misalnya: “Berhati-hatilah main proyek. Bisa-bisa kamu akan masuk penjara.” Tiba-tiba ada yang menyanggah: “Siapa bilang main proyek harus berhati-hati? Buktinya situ sejak dulu selalu main proyek, Artinya aman dong.” Nah, kita membalas kritikan dengan cara mendiskreditkan si pengkritik.

12.   Kedua belas, “BURDEN OF PROOF”. Menyatakan bahwa orang lainlah yang harus membuktikan suatu klaim, bukan si pembuat klaim. Misalnya Seorang  sering berpikir seperti ini. Ia melempar berbagai isu-isu tanpa data dan fakta. Dikarenakan tidak ada yang menanggapinya, ia merasa di atas angin. Ia pikir dirinya benar. Saat seseorang tersinggung lalu melaporkan dirinya ke polisi, ia malah ingin minta maaf dan minta kasusnya dianggap selesai. Aneh.

Dalam logika, burden of proof ini hampir sama dengan argumentum ad ignorantiam, yakni menganggap suatu hal sebagai kebenaran, hanya karena orang-orang diam atau tidak ada orang yang menyanggahnya. Padahal, orang lain memilih diam karena merasa tak ada gunanya berdebat dengan seseorang. Kata satu ujaran, “Yang waras, ngalah!”

13.   Ketiga belas,”BADWAGON”. Keyakinan bahwa jika suatu hal itu populer dan dipercayai banyak orang, maka hal itu adalah kebenaran yang valid, tanpa perlu menyelidikinya lebih lanjut. Misalnya banyak orang yang menganggap bahwa si A itu seorang yang tidak baik. Karena pandangan itu dianut mayoritas orang, ia pun ikut-ikutan percaya dengan apa yang disampaikan.

Ia ibarat gerbong (bandwagon) yang ditarik oleh satu lokomotif. Mungkin ia berpendapat berbeda, cuma karena ia takut untuk berbeda pandangan dengan publik, ia ikut saja ke mana arus akan menyeretnya. Di tataran politik kita, banyak lembaga survei yang hendak berperan sebagai penarik bandwagon opini publik.

14.   Keempat belas, “APPEAL TO AUTORITY”. Kepercayaan pada otoritas. Misalnya saat pemerintah menyatakan satu informasi benar, maka ia lantas dengan mudahnya percaya. Ia lalu mengabaikan berbgai penalaran lain yang belu tentu sejalan dengan pemikiran pemerintah. Atau kita ambil contoh lain. Saat ada lembaga menyatakan sesuatu itu haram, maka ia dengan serta-merta langsung dipercaya, tanpa mengujinya secara kritis.

15.   Kelima belas, “PERSONAL INCREDULITY”. Menganggap sesuatu tidak benar hanya karena susah dipahami. Misalnya seorang politisi mengklaim ia punya ribuan relawan, yang bisa digerakkan karena adanya kesamaan visi serta pola kerja yang efektif.  Seseorang tiba-tiba saja menolak mentah-mentah kalimat itu, hanya karena dirinya tidak memahami bagaimana konsep partisipasi publik serta strategi membangun tim yang kokoh. Dia tidak paham, malas menalar, lalu menganggap ide itu keliru.

16.   Keenam belas,”APPEAL TO NATURE”. Ini adalah kepercayaan bahwa sesuatu itu valid atau benar karena sifatnya yang natural seperti itu. Misalnya kepercayaan bahwa seorang pemimpin itu harus gagah, penuh keberanian, serta punya seragam militer. Keberanian seolah identik dengan seragam.

17.   Keenambelas, “GENETIC”. Menilai satu pernyataan baik atau tidak hanya berdasarkan pada dari mana pernyataan itu berasal, tanpa disertai argumentasi yang valid. Misalnya hanya karena diberitakan korupsi, petinggi satu partai lalu menyatakan, kita harus berhati-hati pada informasi dari media A karena sering mendiskreditkan kita. Harusnya ia akan mengintropeksi diri lalu menjelaskan duduk perkara, bukannya menyalahkan pihak lain.

18.   Kedelapan belas, “NON CAUSE PRO CAUSE”. Ini adalah penarikan kesimpulan yang keliru. Misalnya pernyataan bahwa Sukarno menjadi presiden pertama Indonesia karena dia orang Jawa. Pernyataan ini dibuat tanpa memperhatikan berbagai aspek lain. Pastilah akan muncul pernyataan, mengapa harus Sukarno? Bukankah ada banyak orang Jawa lainnya?

Dengan mengenali delapan belas ciri ini, cara berpikir yang salah yang membuat logika yang sesatpun dapat kita hindari. Selamat berpikir.

Selasa, 07 Januari 2020

Putusnya Sandal Yutaka

Ada yang beralasan sebuah kehilangan dengan berkeluh kesah. Adapula menjadikan kehilangan untuk mendapatkan lebih baik.

Lebih baik dalam memberi arti.
Lebih baik dalam bersikap.
Lebih baik dalam bertindak.

Konon, karena hidup itu adalah pilihan. Pun cara kita menjalaninya banyak pilihan - pilihan.

Siang dan malam yang dipergantikan. Lapang dan sempit yang dipergilirkan. Adalah karunia Tuhan akan selalu datang dan pergi, bagaimana kita memberi arti.

Putusnya sandal Yutaka. Bukan berarti tanda celaka.
Yutaka hanyalah sekedar nama, dari sekian banyak sandal yang dicipta manusia.

Setiap orang punya jalannya. Setiap orang punya cerita.
Ceritakanlah yang baik-baik sahaja. Tak perlu yang buruk menghias kata.

Buruk rupa cermin dibelah. 
Buruk - buruk papan jati, tetap harus dijaga dan dibela.

Mikul dhuwur mendem jero. 
Hanacaraka data sawala.

Hilangnya sandal Yutaka, hanyalah peristiwa biasa.
Yang tak biasa jika harus mencela.
Yang bahaya jika pisah saudara.
Yang Cilaka Jika Iman binasa.

Menjadi tua adalah niscaya
Mendewasa adalah cara bijaksana.

Kita yang hidup di desa. Ternyata sama dengan yang di kota.
Tantangannya hidup bersama harus dijaga. Ikatan rasa harus dibela.

Nikmat pagi menjemput harapan ditemani secangkir kopi, segelas teh manis, patut disyukuri bahwa aku - kamu dan kita semua masih diberi kesempatan.






Jumat, 03 Januari 2020

Tahun baru 2020, Harapan di Tengah Bencana

Penghujung tahun 2019 dirasa berbeda bagi warga yang berada di wilayah Jabodetabek dan sebagian besar wilayah Indonesia.

Sore hari tanggal 31 Desember 2019 cuaca mendung yang berlanjut menjadi hujan yang tak henti hingga esok harinya. Awal tahun, 1 januari 2020 adalah cerita yang patut dituliskan bahkan direnungkan.

Ada banyak rencana dari banyak orang.
Ada banyak acara yang dipersiapkan.
Ada banyak tempat sudah ditentukan lokasinya.
Manusia punya rencana, Allah jua yang menentukan.

Hujan turun hingga rabu siang telah mengubah rencana-rencana itu. Berdiam diri di dalam rumah adalah cara paling nyaman dalam menyambut datangnya tahun baru 2020, bahkan tempat tidur menjadi lebih menarik dibanding harus memaksakan diri keluar rumah.

Suara petasan yang menggelagar bersahutan mengiringi pergantian tahun, tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Sorak sorai kegembiraan tak bergemuruh lagi terdengar.

Kekuasaan Allah tengah dipertunjukan dihadapan makhluknya melalui turunnya hujan, agar manusia ingat dan mawas diri, kita adalah makhluk lemah.

Tanpa ada yang bisa menolaknya musibah itu datang di banyak tempat. Banjir dan longsor menjadi nestapa yang dirasakan dalam mengawali awal tahun.

Ada banyak kehilangan, ada kesedihan yang menghiasi setelah datangnya bencana.

Semua terjadi dengan kuasa dan kehendak sang pencipta pemilik jagat raya. Pasti ada hikmah atas terjadinya semua ini.

Dua tahun berturut-turut kita diingatkan dengan terjadinya bencana alam diwaktu yang mendekati pergantian tahun.

Tsunami di pantai selatan Banten.  Anyer, Carita hingga Sawarna menjadi cerita pilu ketika air bah itu datang menghempaskan harta-benda hingga nyawa di sepanjang garis pantai.

Akhir 2019 - awal 2020 musibah itu datang kembali di lain tempat.

Jakarta, Tangerang, Depok, Bekasi Kebanjiran karena curah hujan tinggi. Air tidak bisa mengalir. Tumpukan sampah. Resapan air yang beralih fungsi. Drainase tersumbat, semuanya karena ulah manusia.

Banjir hujatan-cacian di belantara media sosial tak kalah derasnya mengiringi musibah kepada sang Gubernur Jakarta yang jadi tertuduh.

Bogor dan Kabupaten Lebak harus mersakan duka yang dalam. Banjir dan longsor telah memporak porandakan apa yang selama ini telah dibangun. Puluhan nyawa tak tertolong hingga yang tak dapat diketemukan melengkapi kesedihan warga yang terkena bencana.

Introspeksi itu keharusan. Pemerintah. Penegak hukum. Para pengusaha. Dan Siapapun kita!?

Alam sudah banyak dirusak oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab.

Bahkan yang paling kecilpun kita telah banyak mendzolimi kelestarian alam. Hanya untuk sekedar membuang bungkus permen saja kita bahkan acuh membuangnya dengan benar.

Kita terlalu sering masa bodoh dampak yang ditimbulkan dari cara kita memperlakukan alam semesta dengan ramah dan rasa syukur.

Musibah tidak akan datang tanda seizin yang maha kuasa.

Eratkan empati, simpati dan solusi. Bukan basa-basi atau mencitrakan diri.

Kita bangsa yang tangguh menerima cobaan. Dan akan memperbaiki diri.

350 tahun dijajah. Aceh luluh lantak diterjang Tsunami. Krisis 1998 telah menempa kehidupan berbangsa.

Kita bisa bangkit. Kita bisa tetap berdiri. Kita bisa tetap bersatu tanpa disintegrasi.

Hikmah dan harapan selalu terbuka untuk kita resapi.

Mari saling memperbaiki diri

Tahun 2020 kita masih boleh bermimpi.

Tahun 2020, masih ada harapan di tengah bencana.

Hasbunallaah wani'mal wakiil. Ni'mal maulaa wani'mannasiir.



Pasarean,4012020