Tiga Menguak Takdir adalah judul buku yang ditulis oleh sastrawan Chairil Anwar, asrul Sani dan Rivai Avin yang saya sadur untuk sebuah perhelatan pemilihan kepala desa Pasarean kecamatan Pamijahan kabupaten Bogor, tanggal 20 Desember 2020.
Nu’man Satibi dan Dedi Furkon adalah tiga orang putra desa yang berada di persimpangan jalan untuk menuliskan nasibnya, hari ini nasib ketiganya sedang digurat dalam perjalanan takdir sejarah perjalanan kehidupan di desa Pasarean.
Memilih nomor satu, dua atau tiga apakah akan mengubah perjalanan takdir kehidupan kita juga? Jawabannya bisa ya – bisa tidak. Bagi para tim sukses serta orang – orang yang ada di lingkaran dekat para calon kepala desa Pasarean yang akan ditentukan hari ini untuk enam tahun ke depan, harapan kemenangan calon yang diusung adalah harapan yang menjadi tumpuan, entah itu menjadi tim perumus kebijakan pembangunan desa, berharap menjadi perangkat desa kah, atau hanya sekedar mendapat remah dari gempita proses pencalonan hingga pemilihan sebagai pendukung, penggembira dari kejauhan untuk kegembiraan dan senang – senang belaka
Pilihan hari ini harus kita tentukan! Ini adalah sebagai tanggung jawab moral dan sosial juga tanggung jawab spiritual yang sudah kita sepakati bersama, bahwa untuk menentukan Kepala desa dilakukan dengan memilih dari calon yang sudah ditentukan. Berapa banyak hasil pilihannya nanti mempengaruhi takdir perjalanan hidup kita itu soal lain, bagaimana cara kita memaknainya, Apakah akan digantungkan kepada calon- calon tersebut? Atau kita tetap berkeyakinan bahwa yang menentukan kehidupan kita hari ini serta masa depan adalah Diri sendiri serta sumber daya insani yang kita miliki dalam menjemput takdir yang telah Allah tentukan kepada semua makhluknya.
Sebagian kita adalah diri kita sendiri serta kehidupan yang melekat tidak banyak dipengaruhi orang lain.
Setiap kita punya berlian diri yang tidak dimiliki orang lain.
Setiap kita punya nasib sendiri yang tidak dimiliki orang lain.
Setiap kita punya takdir sendiri yang bukan takdir orang lain.
Ceto welo – welo. Piraku kudu ngagantungkeun hirup ka papada jalma, padahal urang boga Pangeran nu maha beunghar jeung welas asih..
Ceto welo – welo. Piraku kudu papaseaan ku saukur beda pilihan.
Mari memilih dengan kegembiraan dan keakraban dengan sesama!
Jaga protokol kesehatan, pandemic covid 19 belum berakhir.
Jaga protokol silaturahmi karena itu modal hidup yang akan dibawa mati.
O ya! Ya nasib, nasibmu jelas bukan nasibku.
O ya! Ya nasib, nasibmu jelas bukan takdirku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar