Jumat, 04 Maret 2022

MEMOAR UNTUK AYAH

 

Diksi dan intonasinya tetap tegas tak berubah ketika memanggil satu persatu anak - anaknya, kondisi tubuh yang kian melemah di hari hari terakhir tak mengurangi semangatnya, panggilan yang terus berulang meminta untuk ditemani oleh anak yang dipanggilnya, napas yang tertatih pandangan yang layu kian menyaput usianya yang kian senja. 

Terlahir di hari sabtu 12 April tahun 1930, bertepatan dengan 14 dzulqo’dah 1348 Hijriyah dari pasangan H Abdul Wahab dengan Siti Jamilah. Majalengka adalah gudang pengalaman, lipatan kenangan masa kecil dengan getasnya mengalir jika diceritakan, tak ada gurat pikun ketajaman berpikirnya tetap kuat menyiratkan sebuah ketegasan dan keteguhan pendirian dalam bersikap. Begitulah konon orang yang berbintang Aries, pembawaannya selalu bersemangat, kemauannya kuat, energy kegembiraanya selalu muncul maka tak heran selain kalam-kalam Ilahi yang dengan pasih dilapalkan, kegemarannya bernyanyi melekat pada dirinya, jika cucu-cucunya sedang disampingnya lagu-lagu berbahasa Jepang, Belanda, Inggris bahasa Jawa dan Sunda terbiasa dengan riang ia nyanyikan untuk menghibur. 

Abdul Majid kecil turut merasakan betapa kolonialisme Belanda begitu getir merampas kebebasan dan harkat kemanusiaan, dalam satu cerita yang dituturkannya, pernah pada suatu masa dirinya harus menemani paman dan gurunya KH Abdul Halim dalam mengelola sebuah perguruan yang berdiri di tengah kota Majalengka, dibangun untuk mendidik, mengajarkan keilmuan juga menyemai kebebasan dan perjuangan melepaskan dominasi kolonialisme yang mencengkeram kuat waktu itu. 

Cara-cara yang dilakukan KH Abdul Halim seperti itu, rupanya sangatlah tidak disukai para meneer pendatang berambut pirang, yang kadung menikmati kekuasaan dan merasa lebih tinggi, angkuh mengangkangi hak-hak pribumi yang sebagian besar para petani, hingga dengan brutalnya perguruan “Majlisul Ilmi” diobrak abrik kaum penjajah, KH Abdul Halim sebagai pimpinan perguruan dituduh melakukan penghasutan dan makar terhadap para penjajah, akibatnya iapun diterungku dibalik jeruji penjara.

 Demi mengamankan dan kelangsungan pendidikan dan perjuangan perguruan, Abdul Majid kecil yang dianggap anak yang tidak mengerti apa apa diperintahkan menelusup ke perguruan yang sudah dirusak untuk menyelamatkan dokumen dan harta benda yang tersisa,  secara berlahan dan sembunyi  ia lakukan misi berbahaya tersebut, kemudian mengungsikannya ke sebuah perbukitan 16 kilometer dari tengah kota yang jauh dari keramaian, hingga pada satu saat Abdul Majid ketahuan para penjajah akhirnya iapun dikejar - kejar dan mengalami penyiksaan, penjara Belanda menjadi bagian perjalanan dalam perjuangan yang dilakukannya. 

Setelah para pendiri perguruan dibebaskan dari penjara kemudian hari,  di balik perbukitan yang sepi dengan sisa – sisa buku, kitab dan dokumen yang bisa diselamatkan, sang paman KH Abdul Halim membangun dan merintis kembali perguruan yang kemudian dinamakan "Santi Asromo", yang berarti Pondok/tempat yang sunyi mengganti nama perguruan dari Majlisul ilmi, kemudian Hayatul Qulub Persyarikatan Oelama kemudian berubah lagi menjadi Perikatan Oemat Islam. 

Menginjak usia remaja Abdul Majid  menimba ilmu di kota Solo di sebuah pondok di lingkaran KH Samanhudi pendiri Syarekat Dagang Islam, di sinilah keilmuan pengalaman  dan pergaulan mulai terasah, Solo telah menempa semua itu, salah satu kemampuan bahasa asing yang ia kuasai serta pergaulan dengan para saudagar pemilik usaha tenun rakyat yang bergabung dalam Syarikat Dagang Islam telah memberi bekal dalam berwirausaha serta jaringan usaha tenun rakyat selama di Solo yang kemudian ia kembangkan di tanah kelahirannya Majalengka. 

Tibalah waktunya selesai menimba ilmu di kota Solo, Abdul Majid muda yang masih energik membantu mengembangkan usaha tenun bersama ayahnya H Abdul Wahab, memanfaatkan jaringan pergaulan dengan para pengusaha ketika di Solo, memasarkan hasil usahanya hingga ke berbagai kota maka tak jarang perjalanan ke luar kota Majalengka adalah bagian dari keseharian yang ia lakukan. 

Berwira usaha dan berorganisasi adalah dua hal yang tak terpisahkan dalam perjalanan hidup Abdul Majid muda, berorganisasi dan berwirausaha dipadukan untuk saling menunjang keduanya, organisasi yang dijalankan bisa dengan ajeg penuh kemandirian dijalankan dengan baik tanpa bergantung belas kasihan menadah pemberian orang lain sehingga dapat melaksanakan program organisasi  dengan penuh percaya diri.

Salah satu fatsun kuat dalam berorganisasi yang selalu dijaga adalah kepatuhan mengikuti keputusan organisasi, siap sedia ketika instruksi disampaikan termasuk titah pimpinan perguruan "Perikatan Oemat Islam" KH Abdul Halim yang pada waktu itu juga aktif dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia, hari harinya tak lepas dari kesibukan untuk mencurahkan pikiran bersama para founding father lainnya merumuskan bentuk dan tatanan Negara baru yang akan didirikan di masa terakhir penjajahan Jepang, karena ia tercatat sebagai salah satu dari 67 orang anggota BPUPKI (Badan Pelaksana Persiapan Usaha Kemerdekaan Indonesia). 

Dalam menjalankan roda organisasi, KH Abdul Halim dibantu sepupunya  KH Abdul Wahab ayahanda Abdul Majid yang dpercaya untuk menjadi bendahara organisasi, lalu Abdul Majid muda ditugaskan menjadi duta ke beberapa wilayah dalam mengemban amanat dari dua orang yang dihormatinya tersebut.

 Kesatriaan di bilangan Berlan Matraman dan Cijantung adalah bagian dari jejak perjalanan dalam melaksanakan perintah orang tua dan gurunya tersebut, mengabdikan diri sebagai pendidik di lingkungan keluarga para tentara yang pada waktu itu  baru dibentuk setelah proklamasi Indonesia dikumandangkan. 

Tahun 1952 dalam sebuah kongres alim ulama di Cianjur, Abdul Majid muda dipertemukan dengan seorang ulama yang kharismatik dari Bogor KH Sholeh Iskandar  yang belum lama melepas gelar ketentaraan yang berpangkat Mayor, pernah memimpin satu grup Batalyon O Singadaru Hizbullah wilayah Bogor dan Banten. Abdul Majid begitu terpukau mendengarkan penyampaian pikiran-pikiran KH Sholeh Iskandar yang terasa segar dan brilian untuk membangun masyarakat yang baru lepas dari penjajahan. 

KH Sholeh Iskandar kemudian berpesan dan menitipkan Abdul Majid untuk mendampingi seorang tentara yang masih aktif Kapten Dasuki Bakri dan kemudian mengajaknya untuk ikut serta ke Bogor. Abdul Majid diminta memberikan kemampuan yang dimiliki untuk membantu membangun masyarakat di Bogor pada waktu itu dan iapun kemudian mengajak beberapa teman dan saudaranya yang sama- sama pernah mondok di kota Solo untuk turut serta ke Bogor. 

Dari Leuwiliang hingga Cigudeg, berpindah tempat demi mengabdikan dalam membangun pendidikan dibawah dua organisasi berbeda yang baru saja dipersatukan yang tercatat dalam sejarah, karena sebuah keistimewaan yang jarang terjadi dua kepentingaan dan latar belakang organisasi yang berbeda mau melebur menjadi satu, yaitu *Perikatan Oemat Islam dari Majalengka dengan organisasi Al Ittihadiyatul Islamiyah Indonesia (AII)  dari Sukabumi yang difusikan pada tanggal 5 April 1952 di Kota Bogor dan berubah nama menjadi "Persatuan Ummat Islam" (PUI), untuk keresidenan Bogor waktu itu diketuai KH Sholeh Iskandar , Kapten Dasuki Bakri sebagai sekretarisnya. 

Setelah berkeliling di beberapa wilayah di Bogor Barat, terakhir Abdul Majid yang berusia 22 tahun diboyong ke sebuah kampung yang baru selesai dibangun menjadi sebuah kampung baru, setelah sebelumnya kampung yang lama sebagai bagian taktik perjuangan sebagaimana halnya peristiwa "Bandung lautan api" sengaja dibakar oleh para pejuang revolusi pada saat agresi Belanda kedua tahun 1948 yang berniat melucuti perlengkapan dan perbekalan para tentara pejuang kemerdekaan, menyadari bahwa kekuatan para aggressor sangatlah tidak berimbang. 

Ketika kampung Pasarean lama dibumi hanguskan tanpa sisa, menurut kesaksian ibunda Siti Maesyaroh yang saat itu masih anak-anak, para penduduk kampung seluruhnya diungsikan ke berbagai wilayah di wilayah Bogor Barat dan Banten ibunda dengan neneknya mengungsi ke perbukitan wilayah Purwabakti Pamijahan, hingga kemudian setelah situasinya dirasa aman para pengungsi dan tetua kampung veteran  laskar Hizbullah kembali ke kampung halaman yang dicintainya dan sebagian besar para laskar tersebut melepas gelar ketentaraannya, mereka bersama para pengungsi kembali menata sebuah perkampungan baru pada tahun 1950 yaitu Kampung Pasarean baru dengan lokasi dan sistim penataan kampung yang baru juga hingga kampung ini pernah mendapatkan penghargaan daru UNESCO sebagai kampung modern pertama di dunia ketiga. 

Mengabdi dan mengamalkan ilmunya sekira 3 tahun di kampung Pasarean, Abdul Majid dititipkan oleh Kapten Dasuki Bakri kepada koleganya seorang veteran perang untuk tinggal di rumahnya yaitu KH Sholeh Fajar, setelah tinggal beberapa tahun KH Sholeh Fajar semakin  mengenal pribadi, pemikiran dan sepak terjang yang dilakukan Abdul Majid dengan penuh pertimbangan kemudian menjodohkannya dengan keponakanny anak dari sepupunya Siti Bariyah, gadis remaja berusia 15 tahun yang saat itu tinggal dan diurus oleh neneknya Abu Dewi Binti Jasan, tak lain adalah anak didik Abdul Majid sendiri yang bernama Siti Maesyaroh. 

Tahun 1956 mengawali  kehidupan rumah tangga di kota Majalengka, Abdul Majid kembali mengembangkan usaha tenun yang pernah digelutinya bekerjasama dengan beberapa saudagar lainnya yang ada di Keresidenan Cirebon, dalam perjalanannya kemudian membuat perhimpunan usaha di bawah "Koperasi Djojobojo",  perhimpunan ini berkembang cukup maju, hingga ketika Bung Karno menyampaikan bahwa Revolusi belum berakhir dan menyerukan untuk mengumpulkan Dana Revolusi, para saudagar ini mengumpulkan dana revolusi ini dibawah komando Kesultanan Cirebon. 

Di hari - hari terakhir usianya ayahanda selalu menyampaikan kepada semua anaknya bahwa dana revolusi ini tidak sepenuhnya digunakan oleh Negara, ayahanda sebagai bagian dari pengurus Koperasi Djojobojo pada waktu itu juga sebagai kuasa yang namanya tertuang dalam dokumen penyerahan dana revolusi bersama kesultanan Cirebon selalu mengatakan ada bagian dana revolusi tersebut  yang masih tersimpan di Kesultanan Cirebon yang masih bisa dipergunakan saat ini untuk kepentingan masyarakat banyak. 

Entahlah, ketika cerita Dana Revolusi ini ayahanda sampaikan dalam keadaan sudah tidak berdaya, selalu timbul pertanyaan apakah ini ada atau tiada? Antara percaya dan tidak atas apa yang diceritakannya, terlalu banyak cerita yang kita dapat di luaran mengiringi cerita dana revolusi ini, ditambah lagi gonjang –ganjing yang terjadi di kesultanan Cirebon saat ini, apakah ada hubungannya dengan apa yang ayahanda ceritakan. Akhirnya seperti semilir angina dana revolusi ada ceritanya namun entah bagaimana mencari jejaknya. 

Kami yakin ayahanda tidak pernah berbohong atas apa yang pernah ia lakukan, kamipun yakin ayahanda selalu menjaga untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya, apalagi dengan melakukan cara - cara tidak halal. 

Karena hidup harus diperjuangkan, pembuktiannya dilakukan dengan kerja nyata dan cara yang baik, cerita tentang dana revolusi biarlah menjadi bunga yang menghiasi dalam kecamuk revolusi dalam mempertahankan kemerdekaan pada waktu itu, fokus kita bukan di situ saat ini  teramat banyak lahan dan aktualisasi yang bisa kita perbuat, biarlah jika saatnya ditemukan jalannya pembuktiannya akan terbuka pada waktunya.

 Ayahanda Abdul Majid Sambil terus mengembangkan perniagaannya hingga merambah pemasarannya di wilayah Jawa Barat, keresidenan Cirebon hingga Jawa tengah, minat berorganisasinya tidak pernah padam. Namun situasi politik yang tidak menentu ketika Republik ini belum lama berdiri, berimbas dengan organisasi PUI yang telah menempanya dalam berorganisasi hingga dampaknya terasa ketika PUI waktu itu sebagai underbow partai Ma'syumi ketika partai ini kemudian dibubarkan tahun 1960. PUI-pun ikut meredup pada waktu itu karena selalu dibawah bayang-bayang pengawasan pemerintah orde lama. 

Minat organisasi Abdul Majid akhirnya berlabuh  masuk menjadi anggota organisasi Nahdlatul Ulama, iapun kemudian dipercaya menjadi pengurus Nahdlatul Ulama Kabupaten Majalengka dan ketika muktamar NU ke-13 tahun 1962 di kota Solo Abdul Majid  menjadi salah satu utusan dari Majalengka bahkan dalam satu dokumentasi peristiwa jabat tangannya dengan presiden Sukarno ia simpan, sekarang foto tersebut hilang jejaknya entah kemana, aktifnya di organisasi Nahdlatul Ulama menghantarkannya menjadi anggota DPR-GR Kabupaen Majalengka utusan dari NU selama dua priode

 Menjadi anggota DPRD pada waktu itu betul-betul sebuah pengabdian untuk masyarakat. Kesaksian ibunda Siti Maesyaroh bahwa ketika mendampingi ayahanda Abdul Majid menjadi anggota DPRD sangat jauh dari fasilitas, tidak seperti yang kita saksikan saat ini, hanya uang sidang saja yang diperoleh tidak ada yang lain. 

Sebagai anggota DPRD, tamu yang datangpun silih berganti ke rumah kami di Jalan Sarkosi kelurahan Majalengka Kulon kota Majalengka dan menjadikannya tempat persinggahan para konstituen dari berbagai pelosok desa, melayani tamu dengan sebaik- baiknya adalah tuntunan yang harus selalu ditunaikan,menyuguhi dengan layak dan memuliakannya adalah kebiasaan yang telah dicontohkan orang tua kami sebelumnya, memboyong jamaah sholat subuh masjid agung Al-Imam kota Majalengka untuk sarapan pagi di rumah kakek H Abdul Wahab adalah kesehariannya, tak ada yang berkurang ketika bersedekah ditambah perniagaan yang dilakukan sangat menunjang untuk melakukan itu semua, nama-nama seperti Rustana penilik Agama dari Jatitujuh, Ahmad Sobahi orang tua dari Karna Sobahi Bupati Majalengka saat ini adalah salah satu teman yang terbiasa singgah di rumah jalan Sarkosi. 

Gonjang ganjing politik tahun 1965 dengan pemberotakan PKI, akhirnya berdampak pada usaha tenun yang ayahanda jalankan, kekacauan dan  krisis terjadi di mana-mana melanda pada saat itu. Untuk bisa bertahan ayahandapun beralih haluan dengan membuka  lahan pertanian seluas 10 hektar di kawasan Sukamelang Kertajati Majalengka yang ia peroleh melalui perantara temannya H Rustana penilik Agama dibeli dari keuntungan usaha tenunnya. 

Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, usaha pertanian yang baru dirintis dengan menanam kacang tanah yang dibantu para pekerja dari Desa Ranji Jatiwangi belum sempat dipanen mengalami fuso dilanda kemarau panjang hingga 8 bulan sehingga mengalami gagal panen, lengkap sudah ujian yang ayahanda alami, belasan pekerja yang membantu akhirnyapun tak sanggup pula untuk dibiayai. 

Keadaan yang sulit saat itu  terdengar oleh celotehan anak kecil ketika diajak silaturahmi ke Bogor, mendorong nenek yang mengurus ibunda Siti Maesyaroh mengajaknya kembali untuk tinggal di Bogor, tahun 1967 bersama 4 orang anak serta 1 orang dalam kandungan kemudian harus memulai hidup baru di Bogor. 

Seiring berjalannya waktu aktifitas ayahanda dilakukan di Bogor ikut melebur dengan suasana yang terjadi di Bogor, hanya sesekali ayahanda mengunjungi kampung halamannya. Sukamelang dengan lahan pertanian 10 hektarnya seperti mimpi buruk yang pernah ayahanda alami, jangankan untuk mengurus surat - surat jual belinya untuk sekedar menengokpun tanah yang dibelinya tersebut ayahanda enggan melakukannya. 

Hingga melewat bilangan puluhan tahun ketika Bandara Kertajati sedang dibangun, lokasi tanah yang tidak jauh dari lokasi Bandara tersebut ingatan akan tanah miliknya muncul kembali, ayahanda baru mau menceritakan tanah yang didapat dari hasil tabungannya tersebut, dengan  bermodalkan cerita ayahanda kamipun menelusuri keberadaannya, namun sayang beribu sayang teman yang menjadi perantara ketika membelinya kemudian ia menitipkannya yaitu H Rustana juga telah lama meninggal dunia. 

Tak ada selembar kertaspun yang bisa kami bawa sebagai penguat kepemilikan tanah Sukamelang, yang kami dapat hanya kesaksian orang – orang yang pernah membantu menggarap  tanah ayahanda, mereka yang usianyapun sudah uzur ikut membenarkan bahwa tanah tersebut adalah telah dibeli dan menjadi milik ayahanda Abdul Majid. 

Sekian lama tinggal di Bogor yang menjadi bagian tak terpisahkan sejak tanah Majalengka ditinggalkan, menjadi petani adalah profesi yang dijalani ayahanda di atas tanah pemberian orang tua, menjadi pedagang di pasar induk Kramat Jati juga pernah dijalani, jatuh bangun terus silih berganti adalah cerita perjalanan hidupnya selama tinggal di Bogor. Minat organisasinya tetap dirawat, menjadi anggota dan komisaris ( ketua pengurus) Partai Persatuan Pembangunan kecamatan Cibungbulang cukup lama ia emban di saat kekuatan orde baru sedang kuat - kuatnya dan jabatan itu ia sudahi ketika datangnya masa reformasi dan orde baru ikut runtuh. 

Nopember 2018 sakit yang mendera mengharuskan ayahanda harus total tidak beranjak dari tempat tidur, April 2021 keadaannya semakin melemah untuk sekedar dudukpun ayahanda semakin tidak sanggup

Awal januari 2022 Decubitus (luka akibat kelamaan berbaring)semakin memperlemah kondisi tubuhnya, ingatannya masih kuat  suaranya masih lantang satu persatu anaknya ia panggil untuk mendekat, inilah seperti panggilan-panggilan Malaikat untuk menguji keimanan,kepatuhan, kesabaran, keikhlasan kami anak-anaknya atas kewajiban untuk berbakti kepada orang tua. 

Selasa 15 Februari 2022 menjelang purnama 13 rajab 1443 terbit, pangilan –panggilan itu di pagi hari masih dengan lantang terdengar ketenangan menyelimuti setelah itu. Jam 14.00 panggilan itu tak akan pernah terdengar lagi. Engkau ayahanda tidak bisa lagi memanggil, panggilan Sang pemilik nyawa telah mengakhiri semuanya.

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya.

Ayah, engkau bukanlah ayah yang sempurna, tapi kami bangga menjadi anakmu. Biarlah Rabbmu yang akan menyempurnakan di alam sana

Ayah. kejujuran, tidak mencuri, permudah urusan orang lain adalah petuahmu akan selalu kami pegang sampai kapanpun.

Selamat jalan ayah, maafkan anakmu yang tidak sepenuhnya bisa berbakti kepadamu.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar