Rabu, 27 September 2017

Belajar Bersikap Positif

Sikap positif akan berangkat dari pandangan-pandangan hidup yang selalu dibiasakan melihat persoalan dari sudut pandang mencari kebaikan dari setiap kejadian yang menimpa seseorang serta kejadian di sekelilingnya.

Tidak mudah memang untuk selalu bersikap positif jika tidak dimulai dari pandangan di atas, setidaknya dengan membiasakan memandang dengan cara yang baik, sikap positif akan tumbuh seiring dengan kemauan kuat untuk ditanamkan dalam diri.


Berikut ini beberapa sikap positif yang bisa kita tanamkan dari kejadian-kejadian yang menjumpai kehidupan kita setiap saat.

 Hidup positif itu​....
▫Membina, bukan menghina.
▫Mendidik, bukan 'membidik'
▫Mengobati, bukan melukai.
▫Mengukuhkan bukan meruntuhkan.
▫saling menguatkan, bukan saling melemahkan.

​Hidup positif itu...​
▫Mengajak, bukan mengejek.
▫Menyejukkan, bukan memojokkan.
▫Mengajar, bukan menghajar.
▫Saling belajar, bukan saling bertengkar.
▫Menasehati, bukan mencaci maki
▫Merangkul, bukan memukul.
▫Mengajak bersabar, bukan mengajak saling mencakar.

​Hidup positif itu.​..
▫Argumentative, bukan provokatif.
▫Bergerak cepat, bukan sibuk berdebat.
▫Realistis, bukan fantastis.
▫Mencerdaskan, bukan membodohkan.
▫Menawarkan solusi, bukan mengintimidasi.
▫Berlomba dalam kebaikan, bukan berlomba saling menjatuhkan.
▫Mengatasi keadaan, bukan meratapi kenyataan.

​Hidup positif itu..​.
▫Suka berhikmat, bukan mahir mengumpat.
▫Menebar kebaikan, bukan mengorek kesalahan.
▫Menutup aib dan memperbaikinya, bukan mencari² aib dan menyebarkannya.
▫Menghargai perbedaan, bukan memonopoli kebenaran.
▫Mendukung semua program kebaikan, bukan memunculkan keraguan.

​Hidup positif itu...​
▫Memberi senyum manis, bukan menjatuhkan vonis.
▫Berletih-letih menanggung problema umat, bukan meletihkan umat.
▫Menyatukan kekuatan, bukan memecah belah barisan.
▫Kompak dalam perbedaan, bukan ribut mengklaim kebenaran.
▫Siap menghadapi musuh, bukan selalu mencari musuh.

​Hidup positif itu...​
▫Mencari teman, bukan mencari lawan.
▫Melawan kesesatan, bukan mengotak atik kebenaran.
▫Asyik dalam kebersamaan, bukan bangga dengan kesendirian.
▫Menampung semua lapisan, bukan memecah belah persatuan.
▫Mengatakan: "aku cinta kamu", bukan "aku benci kamu"

​Hidup positif itu...​
▫Kita mengatakan: "Mari bersama kami" bukan "Kamu harus ikut kami".
▫"Habis berapa ?" bukan "Dpt berapa ?"
▫"Mendatangi" bukan "Menunggu Dipanggil"
▫"Saling memaafkan" bukan "Saling menyalahkan"

❤💛 Semoga kita menjadi yang lebih baik dan bermanfaat💐

Senin, 30 Januari 2017

Selamat Jalan Prof. Soedijarto, MA

Kenangan pertemuan dengan beliau kembali melintas setelah mendengar kepergiannya minggu 29 januari 2017. Ketika itu untuk sebuah keperluan kami harus menemui beliau, berkat bantuan dan rekomendasi seorang purek UNJ sedikit petunjuk bisa kami dapatkan untuk bisa menemuinya.

Dengan berbekal no hp, kami mencoba untuk menghubunginya, rupanya karena kesibukannya mengajar dan mengisi berbagi macam acara, nomor yang dimilikinya ternyata sering dinon aktifkan.
Akhirnya cara lain ditempuh agar bisa berjumpa dengannya, dengan cara sedikit bergerilya dan bertanya kesana kemari ruang kerjanya di lingkungan pasca sarjana UNJ dapat juga kami ditemukan. Dengan hanya waktu 5 menit untuk audiensi, karena harus segera mengisi jadwal mengajar akhirnya beliaupun mengundang kami untuk datang ke rumahnya di bilangan Pasar minggu Jakarta Selatan.

Setelah pertemuan di rumahnya, interaksi kami berlanjut dengan menjadikan beliau sebagai pembicara di beberapa acara kependidikan yang kami adakan.

Penguasaan tentang dunia pendidikan yang dimilikinya telah memberikan warna tersendiri dalam setiap paparan yang disampaikannya, banyak sekali beberapa kebijakan pendidikan hasil dari pemikiran beliau, diantara torehannya adalah alokasi APBN 20% untuk pendidikan, jejak pergumulan dengan dunia pendidikan terbilang cukup panjang, dimulai semenjak beliau menjadi seorang dosen hingga menjadi rektor di IKIP Jakarta ( UNJ), berlanjut menjadi atase pendidikan di Jerman dan Dirjen di Kemendikbud.

Di masa senjanya beliau tetap aktif mengajar di almamater yang telah beliau bina (UNJ), mendirikan organisasi ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia), penasehat PB PGRI, pernah pula menjadi anggota MPR dari utusan golongan serta aktif di beberapa organisasi, karena sejak muda beliau begitu aktif di GMNI.

Satu yang paling diingat darinya, beliau adalah seorang "Sukarnois" dan begitu membanggakan buah pikir para pendiri bangsa yang telah merumuskan konstitusi negara sebagai negara kesejahteraan (welfare state) yang patut dibanggakan, dan menurutnya hanya beberapa negara yg memiliki landasan konstitusi seperti itu, salah satunya adalah negara Indonesia yang tergambar dalam pembukaan UUD 45 yang menjelaskan diantara tujuan bernegara adalah:"Memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa".

Pertemuan terakhir dengan beliau di sebuah acara simposium yang di adakan oleh organisasi besutan Surya Paloh sebelum akhirnya menjadi partai politik ormas "Nasional Demokrat", beliaupun menjadi pengurus didalamya bersama Buya Syafi'i Ma'arif, Sri Sultan Hamengku Buwono X dan yang lainnya.

Gajah mati meninggalkan gading, engkau meninggalkan kami bersama kenangan dan karya untuk bangsa ini. Buku yang telah engkau titipkan yang berjudul "Arah Dan Landasan Pendidikan Kita", akan menjadi pengingat kenangan bersamamu.

" Selamat jalan Prof"...!! Do'a terbaik dari kami selalu menyertaimu...

Story Of Kastrologi

Terlintas begitu saja sebuah ujaran yang kini entah masih dikenal atau malah banyak dilupakan orang tentang "kastrologi",Ini bukan disiplin ilmu, apalagi aliran keyakinan atau idiologi. Ujaran ini lebih dekat dengan kaum "sarungan" yang telah dengan setia menemaninya siang dan malam.

Kastrol hanyalah sebuah benda yang umum dipakai untuk menanak nasi atau ngeliwet, saking dekatnya dengan kaum sarungan ini dalam kesehariaannya, jadilah yang pada awalnya hanya sebuah seloroh menjadi brand tersendiri dengan ujaran "kastrologi".

Peran kastrol tidak bisa dipandang remeh dalam membentuk sebuah prilaku sosial dan kepribadian, kalau ditarik ke belakang, kastrologi telah memupuk semangat juang melawan penjajah, mempertahankan kehormatan NKRI yang dirongrong kaum palu arit dengan perlawanan yang sengit agar Indonesia bisa tetap tegak berdiri sesuai dengan cita-cita konstitusi yang disepakati.

Kondisi kekinian, kastrologi tidak harus dipersamakan dengan orang- orang yang pernah merasakan sentuhannya, tetapi semangat kastrologi patut menjadi contoh dalam membangun sikap dan kepribadian yang patut dicontoh.

"Kastrologi mengajarkan kesederhanaan serta kerendahan hati"...

"Kastrologi mengajarkan kejujuran"...

"Kastrologi mengajarkan kesetia kawanan dan kerelaan untuk berbagi"...

"Kastrologi menuntun kedisiplinan dan keteguhan dalam bersikap"...

Belum pernah merasakan hasil olahan memakai kastrol?
Cobalah sekali-kali rasakan kenikmatannya..!

Entah mengapa nasi keraknya selalu jadi " rebutan"..??