Dua gerbang berdiri dengan anggun
saling berhadap-hadapan sebagai penanda pintu masuk dua kawasan berbeda di tiga
bukit yang telah dibedah menjadi kawasan peternakan dan kawasan pendidikan,
dapat kita lihat di lintasan jalan yang membentang dari Cemplang-Cibunian
Kecamatan Pamijahan dan Cibungbulang Bogor.
Apakah dibangunnya dua gerbang yang
saling berhadapan ini ada kaitan dengan kedekatan dua "eyang" sebagai
perintis pembangunan dua kawasan ini? Khalayak umum mengenal dua eyang ini pada
masanya punya pengaruh kuat dalam perjalanan bangsa ini.
Gerbang yang pertama,terletak di
bukit sarengseng dan Bukit geulis, disini kami lebih akrab menyebutnya dengan
"gunung geulis" dan "gunung sarengseng", dua gunung ini
disulap menjadi kawasan peternakan ketika "eyang Suharto" sedang
kuat-kuatnya menggenggam kekuasaannya.
Dua gunung dalam kenangan masa
kecilku adalah tempat yang sangat menyenangkan ketika musim buah telah datang.
Kecapi, kupa, kemang, juga durian adalah yang paling mudah didapat ketika dua
gunung ini masih menjadi milik warga, dan yang tak boleh dilupakan jika pulang
dari mengambil buah ini sepikulan kayu bakar harus dibawa untuk menyenangkan
nenek buyutku yang punya tempat di gunung itu.
Selain untuk mencari buah-buahan, di
gunung geulis terdapat sebuah kolam kecil yang kalau kami bermain disini serasa
menjadi orang kaya yang banyak uang, kami menyebut kolam kecil ini dengan:
"situ duit", cukup dengan mencelupkan kepala kedasar kolam, disitu akan
nampak bertebaran uang logam yang begitu banyak, setelah kepala diangkat diatas
air ternyata semua hanyalah fatamorgana belaka, hingga saat inipun belum pernah
terdengar kajian ilmiahnya, kenapa pasir dan bebatuan di "situ duit"
ini seolah-olah seperti uang logam jika dilihat dibawah air.
Sedangkan di gunung sarengseng
paling menyenangkan jika sampai ke puncaknya karena hamparan persawahan dan
perkampungan akan terlihat sangat jelas dan eksotis dari ketinggian gunung,
suasana yang berbeda akan didapat jika mendekati daerah yang bercadas, yang
dikenal dengan "cadas jantung".tempat yang memang ngeri-ngeri sedap.
Kini segalanya telah banyak berubah,
ketika sebuah rencana atas nama pembangunan di era orde baru digulirkan untuk
membangun sebuah kawasan peternakan sapi, "Jer besuki mawa bea” adalah
tuah orde baru yang jadi panglima yakni bahwa modal dan kaum bermodal
harus diberi kesempatan seluas-luasnya dan meraih keuntungan yang
sebesar-besarnya. pembangunannya dipaksakan ditengah
kawasan masyarakat yang tidak punya latar belakang peternak sapi.
Tapi apalah
daya jika sang “smailing general” eyang Suharto sudah mengarahkan telunjuknya
pada saat itu, tidak ada yang berani melawan untuk tidak menjual tanahnya di dua
kawasan gunung sarengseng dan gunung geulis kepada para cukong yang menangani
pembangunan peternakan sapi tersebut, tanah bukit yang ada terpaksa dilepas
dihargai dengan hanya 15 ribu rupiah, itupun harus kena potongan para calo yang
tidak bertanggung jawab. Hanya ada satu orang yang bersikukuh pada waktu itu
yang tidak mau menyerahkan tanah keluarga yang dimilikinya untuk dijual, yaitu
seorang Mayor tentara yang masih aktif, Mayor Badrudin kami mengenalnya yang
kini menikmati masa pensiunnya di kampung, perlawanan yang dilakukannya adalah
symbol perlawanan dari seorang yang mewarisi darah anak pejuang kemerdekaan
dari ayahnya.
Beberapa tahun kemudian dibangun
pula gerbang yang kedua yang terletak di gunung menyan sebagai pintu masuk
sebuah kawasan pendidikan dan agrobisnis, dibangun seorang taipan pemilik grup
bisnis “Sahid group” diantaranya memiliki jaringan perhotelan yang tersebar di
berbagai kota besar, percetakan dan media massa “Bisnis Indonesia” serta bidang
usaha lainnya. Cerita tentang sengkarut pembebasan lahan di gunung menyanpun
nyais tanpa ekses yang berarti, tidak sedramatis pembebasan lahan di gunung
sarengseng dan gunung menyan, karena yayasan yang didirikannya ia namakan
dengan “Yayasan Khusnul Khatimah”.
Sesuai dengan dengan namanya cara-cara yang baik dalam pembebasan lahan dan
kegiatan yang dilakukan dalam bidang pendidikan dan sosial adalah sebagai
pengabdian akhir pengisi masa tua pemilik yayasan ini, yaitu : “Eyang Sukamdani
Sahid Gitosarjono”, yang membangun kawasan pendidikan dan pesantren dari mulai
tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.
Di gunung menyan inipun cerita bagaimana jika musim
buah telah tiba adalah masa-masa yang sangat menyenangkan, cerita gotong royong
warga yang mengambil pohon bambu untuk membangun kampung ataupun tempat ibadah
adalah tempat yang menjadi tujuan, pernah pula pada suatu hari ketika kakak
tertua saya sedang menempuh pendidikan di Universitas Bagdad Irak meminta foto
adik-adiknya di kampung, kami melakukan pose-pose dihamparan sawah dengan view gunung
menyan ini, kawan kakak saya ini memberikan komentar yang takjub atas keindahan
gunung menyan dan mengatakan bahwa kami ini tinggal di Negara yang
dihiasi“surga yang indah”.
Diantara dua gerbang kawasan ini
terbentuklah sebuah median jalan yang lapang dan dijadikan sebagai destinasi
keramaian yang mengubah wajah kampung yang tadinya sepi dan terkesan mencekam
ketika di malam hari menjadi tempat yang ramai dan sering dikunjungi orang,
padahal pada awalnya tempat ini jarang disinggahi orang karena cerita-cerita
mistik yang berkembang, konon suatu kejadian pernah menimpa seorang sopir truk
pengangkut batu kapur yang bernama “Acang” terjatuh kedalam jurang yang ada
disana, hingga tempat ini dijuluki dengan “ragrag ki acang”. Kini ceritanya
lain lagi tempat yang tadinya “menyeramkan”, setelah kawasan peternakan sapi
diresmikan langsung oleh presiden Suharto pada waktu itu, kawasan persimpangan
ini akhirnya berubah julukan yang lebih nge-pop yaitu: “KANSAS”...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar