Tidak ada yang abadi di dunia ini, yang abadi hanyalah milik Tuhan
semata.
Satu ayat Al qur’an menyatakan: “Segala sesuatu akan rusak,
kecuali dzat Tuhan yang kekal”.
Menafsir tentang
keabadian yang dimiliki manusia, hanyalah sebatas umur manusia itu berada di
muka bumi ini.
Abadi dengan kebaikan yang terus memberikan manfaat meskipun
ia tidak hidup di alam zhahir ini.
Ia akan abadi pula hingga akhirat dengan balasan atas segala kebaikannya tersebut.
Abadi, bisa berupa kenangan orang-orang yang mencintainya.
Abadi, dengan jejak-jejak perbuatan yang diikuti dan
mengispirasi banyak orang.
Contoh keabadian bisa diambil pelajaran dari manusia agung dengan keharuman namanya, dicintai tanpa
batas, tanpa alasan oleh sebagian besar manusia.
Keabadian semacam ini hanya dimiliki: “Rasulullah
Muhammad SAW”.
Cara terbaik manusia lain untuk mendapatkan kemulian keabadian yang
dimiliki Rosulullah adalah dengan mengikuti jejaknya.
Patuh dengan apa yang diperintah dan yang dilarangnya.
Konsisten dengan perilaku akhlak yang dicontohkan beliau.
Semua perilaku Rosulullah dijalankan berdasarkan ilmu.
Ilmu tidak dapat dijadikan pegangan jika tidak ada sumber
rujukannya.
Sumber ilmu yang mudah dipelajari adalah dengan literasi, buku atau kitab.
Menggali dari sumber utamanya berupa literasi tadi adalah dengan : “Membaca”.
Ketika membaca sudah dilakukan, meresap dalam pikiran dan
sanubari. Ia kembali akan menjadi sumber keabadian dengan syarat:
Jika diamalkan.
Jika diajarkan.
Jika dituliskan.
Mengamalkan dan mengajarkan menuju keabadian terbatas hanya
jika orang tersebut masih hidup di dunia.
Atau diwarisi oleh orang-orang yang memanfaatkan ilmu
tersebut.
Hanya beberapa generasi, setelah itu ia akan pudar karena
semakin jauh dari sumber pokoknya.
Berbeda dengan menulis. Ia akan dikenang, dipelajari dan
dipraktekan sepanjang masa.
Karena sumbernya abadi, sumbernya dengan mudah dipelajari.
Tak mudah memang jadi penulis.
Tak Sulit Juga bagi yang punya kemauan.
Kuncinya adalah: “Banyak membaca dan rajin berlatih menulis”.
Kurang membaca maka akan kurang bahan untuk ditulis.
Beberapa kutipan dari orang yang telah terbukti namanya tetap abadi karena mereka menulis:
1. Ali Bin Abi Thalib ra (sahabat Rasulullah) yang berkata: “Ikatlah ilmu dengan menulis”.
2. Imam Al-Ghazali (Ulama termasyur) dengan kalimatnya,
“Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah
penulis”.
3. Pramoedya Ananta Toer ( Novelis Indonesia ), “Orang boleh
pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam
masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.
5. Kuntowijoyo (Penyair), “Syarat untuk menjadi penulis ada
tiga, yaitu: menulis, menulis, menulis".
6. Fatimah Mernissi"Usahakan menulis setiap hari.
Niscaya, kulit anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaat yang
luar biasa".
7. J.K. Rowling ( Novelis
) “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang
pengalaman dan perasaanmu sendiri”.
Jadi, menulislah agar kita ditulis dengan baik dan meng-abadi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar